Dean's Message: Anak yang Terlalu Mudah Berpindah Tangan

Collab Journal · 2 November 2026

Anak tiga tahun yang nggak pernah nangis waktu ditinggal, dan siapa pun yang menggendongnya dia ikut. Keluarga ini ngira itu anak yang kalem.

Hai, Dik.

Dua malam lalu, waktu Melbourne lagi dingin-dinginnya diguyur hujan akhir musim dingin, pintu ruang konseling komunitas muslim tempat gue piket diketuk. Yang datang Pak Fauzan sama Bu Salma. Lo belum pernah ketemu mereka, tapi mereka pasangan yang disegani di sini. Mapan, rumahnya luas di pinggiran tenggara kota, aktif di pengajian, dan sudah belasan tahun belum punya momongan.

Malam itu, Bu Salma nggak duduk tegak kayak biasanya. Dia naruh satu map tebal dari lembaga perlindungan anak pemerintah bagian Victoria di atas meja kerja gue. Mereka sedang dalam tahap akhir proses resmi pengasuhan seorang balita yatim usia tiga tahun. Sebut saja namanya Dani.

“Ustadz,” kata Bu Salma, suaranya gemetar, “kami baru dapat catatan observasi dari foster care sementara. Saya takut. Apa anak ini rusak? Apa dari sananya dia memang berhati dingin?”

Gue buka lembar pertama. Isinya cuma beberapa baris laporan pekerja sosial, tapi tiap kalimatnya bikin punggung gue merinding. Dani nggak pernah menangis sama sekali kalau pengasuhnya pergi keluar rumah. Siapa pun orang asing yang masuk ke ruangan, Dani langsung lari ke pelukannya dan minta digendong tanpa ragu sedikit pun. Dan catatan terakhir yang bikin Bu Salma menangis: saat diangkat ke dekapan, otot-otot tubuhnya terkulai lemas tanpa perlawanan, persis seperti mayat hidup. Nggak ada pelukan balik, nggak ada tatapan mata yang mencari kehangatan.

Pak Fauzan di sampingnya cuma menghela napas panjang lalu bilang dengan nada khas bapak-bapak praktis: “Salma terlalu banyak mikir, Ustadz. Kan yang penting sekarang kita bawa pulang, kita kasih makan bergizi, kita sekolahkan di tempat terbaik, kita ajak salat. Lama-lama juga bakal luluh dan sayang sama kita.”

Gue terdiam lama banget, Dik. Kalau ini kejadian empat atau lima tahun lalu, waktu gue baru lulus pesantren dan belum kenal ilmu perkembangan manusia, gue mungkin bakal mengiyakan omongan Pak Fauzan. Gue bakal keluarin nasihat klise: banyakin doa, bersedekah, hati manusia bisa dibolak-balikkan. Tapi malam itu, berkat lembaran teori yang dulu bikin kepala gue berasap di bangku kuliah, gue sadar satu hal: Pak Fauzan sedang memegang dinamit tanpa tahu cara menjinakkannya, sementara ketakutan Bu Salma lahir karena dia sama sekali nggak paham bahasa luka seorang anak.


Lo Mengira Bayi yang Tenang Itu Bayi Saleh? Coba Tebak Lagi

Lo pernah nggak sih, Dik, ngeliat anak kecil di asrama pondok lo dulu yang nggak pernah rewel waktu ditinggal orang tuanya sambang, terus semua ustadz memuji dia sebagai anak yang mandiri dan matang secara spiritual?

Gue dulu sering banget terjebak cara pandang begitu. Kita gampang kagum sama anak yang nggak merepotkan. Tapi coba lo buka kembali apa yang dirumuskan John Bowlby dan diuji Mary Ainsworth lewat prosedur Strange Situation. Ketika anak usia dini dipisahkan dari pengasuhnya di ruangan asing, reaksi wajarnya apa? Menangis, panik, mencari. Itu bukan tanda anak manja atau cengeng. Bowlby menyebut kelekatan atau attachment sebagai mekanisme biologis yang terprogram secara evolusioner buat mempertahankan hidup. Tangisan bayi adalah sinyal darurat agar pelindungnya nggak menjauh.

Nah, anak yang waktu ditinggal diam saja, lalu waktu pengasuhnya balik dia malah membuang muka atau pura-pura asyik sendiri dengan mainan, itu bukan mandiri. Di laboratorium Ainsworth, itu dinamai insecure-avoidant attachment. Tapi kondisi Dani bahkan melampaui itu. Anak ini menunjukkan pola kelekatan tidak terorganisir (disorganized attachment).

Gue jelasin ke Bu Salma pelan-pelan: tubuh Dani yang terkulai lemas seperti boneka kain waktu digendong itu bukan tanda dia pasrah atau damai. Itu reaksi membeku, respons saraf otonom saat anak mengalami stres toksik yang berkepanjangan tanpa pernah ada orang dewasa yang datang menenangkan. Hormon kortisol membanjiri otaknya berbulan-bulan sampai sistem pertahanannya menyerah. Menangis butuh energi, Dik. Ketika seorang bayi menangis berjam-jam di ranjang panti atau di kamar kontrakan kumuh tanpa ada satu pun wajah yang merespons secara akurat, otaknya mengambil kesimpulan yang dingin: tangisan nggak ada gunanya. Suara gue nggak mengubah dunia. Maka, dia mematikan tombol sinyal itu demi bertahan hidup.

Pak Fauzan mengira kelekatan anak bisa dibeli dengan makanan dan fasilitas sekolah. Di situ gue langsung teringat eksperimen Harry Harlow yang lo pelajari di kampus. Monyet bayi yang lapar ternyata lebih memilih mendekap boneka induk buatan dari kain lembut yang hangat daripada mendekap boneka kawat yang ada botol susunya. Kebutuhan dasar manusia pertama itu rasa aman dan kenyamanan kontak fisik, bukan sekadar kalori di lambung. Kalau Pak Fauzan cuma menyodorkan nafkah materi, dia cuma jadi induk kawat. Dani butuh induk kain yang sanggup menampung kekacauan sistem sarafnya.


Ini Bagian yang Gue Takut Lo Lewatin: Kenapa Dani Begitu Gampangan Sama Orang Asing?

Coba lo bayangkan adegan ini, Dik: lo lagi di taman kota, terus ada anak balita yang baru pertama kali lo lihat, tiba-tiba nyamperin lo, megang tangan lo, lalu mau diajak jalan ke mana saja tanpa menoleh lagi ke orang tua asuhnya. Sebagian orang bakal bilang, “Wah, ramah banget ya anaknya, nggak pemalu.”

Bu Salma justru melihat itu sebagai tanda bahwa Dani anak yang “gampangan” dan nggak punya rasa memiliki. Di lembar laporan pekerja sosial, ada istilah yang bikin Bu Salma merasa anak ini nggak bakal bisa mencintai siapa pun: Disinhibited Social Engagement Disorder alias DSED.

Di ranah klinis DSM-5, ada dua kutub gangguan kelekatan yang lahir dari penelantaran ekstrem. Yang satu adalah RAD (Reactive Attachment Disorder), di mana anak menutup diri total, waspada berlebihan, menarik diri, dan bisa meledak agresif kalau didekati. Satunya lagi ya DSED ini. Anak dengan DSED tampak sangat ramah, nggak punya rasa takut pada orang asing, dan nggak menunjukkan kesedihan saat figur pengasuh pergi meninggalkannya.

Gue tatap mata Bu Salma malam itu, lalu gue bilang: “Bu, Dani mendekati semua orang bukan karena dia sayang ke semua orang. Justru kebalikannya: dia mendekati siapa saja karena bagi dia, nggak ada satu pun orang di dunia ini yang benar-benar istimewa atau bisa diandalkan.”

Lo inget kan konsep Model Kerja Internal atau Internal Working Model dari Bowlby? Di tahun-tahun awal hidupnya, interaksi bayi dengan pengasuh utama membangun cetak biru mental tentang bagaimana hubungan manusia bekerja. Kalau tiap kali dia lapar, takut, atau sakit, ada ibu yang datang merespons dengan konsisten dan hangat, anak membangun model internal bahwa dirinya berharga dan orang lain aman untuk dipercaya.

Tapi apa yang dipelajari anak seperti Dani, yang dalam tiga tahun pertama hidupnya berganti-ganti pengasuh sementara, diabaikan, dan ditelantarkan? Cetak biru mentalnya rusak. Hati nuraninya belum sempat diletakkan pondasinya karena rasa aman mendasar nggak pernah ada. Dia mendekati sembarang orang asing murni sebagai strategi bertahan hidup yang putus asa: dia mencari remah-remah perhatian dari siapa pun yang lewat, karena dia nggak punya jangkar utama yang disebut Bowlby sebagai figur monotropi.


Usia Tiga Tahun: Titik Rawan di Antara Luka dan Plastisitas

Pak Fauzan sempat memotong penjelasan gue dengan suara agak keras. “Ustadz, tapi kan Dani baru tiga tahun! Masih kecil banget. Akal belum jalan, ingatan juga belum ada. Nanti kalau sudah umur tujuh tahun, kita didik disiplin, kita bawa ngaji ke madrasah, pasti hilang sendiri trauma masa bayinya.”

Gue narik napas panjang. Lo tahu kan, Dik, betapa seringnya orang tua kita menganggap usia balita itu masa kosong yang nggak meninggalkan bekas? Seolah-olah hidup manusia baru dimulai pas masuk sekolah dasar.

Gue ambil selembar kertas kosong di meja, gue gambar garis waktu perkembangan. Gue tunjukin ke Pak Fauzan: Dani sekarang ada di fase kanak-kanak awal, usia dua sampai enam tahun. Secara kognitif, menurut Jean Piaget, Dani sedang masuk ke tahap praoperasional. Di fase ini, anak mulai menggunakan simbol, bahasa, dan imajinasi, tapi cara berpikirnya masih didominasi oleh egosentrisme. Egosentrisme di sini bukan berarti sombong atau egois secara moral, Dik, tapi ketidakmampuan kognitif anak untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Anak balita mengira apa yang dia rasakan dan lihat adalah apa yang semua orang rasakan.

Artinya apa buat kondisi Dani? Kalau Dani merasa dunia ini menakutkan dan dia ditolak oleh pengasuh-pengasuh sebelumnya, dalam skema berpikir praoperasionalnya yang serba animistis dan egosentris, dia bakal menganggap dirinyalah yang buruk. Ingatan naratifnya tentang masa bayi mungkin nggak terekam jelas di memori jangka panjang, tapi sistem limbik otaknya, terutama amigdala yang memproses rasa takut, mencatat rasa terancam itu dalam bentuk memori emosional somatis. Tubuh mengingat apa yang pikiran lupakan.

Di saat yang sama, Erik Erikson menaruh fase usia Dani ini di antara dua krisis besar: autonomy versus shame and doubt, lalu berlanjut ke initiative versus guilt. Dani baru bisa membangun inisiatif yang sehat kalau krisis kepercayaan dasarnya (trust versus mistrust) di masa bayi sudah selesai. Lah, kepercayaan dasarnya saja hancur berantakan. Kalau Pak Fauzan menuntut kedisiplinan dan kepatuhan sebelum rasa aman tertanam, yang tumbuh di dalam diri Dani cuma rasa bersalah dan perasaan tidak kompeten.

Tapi gue juga nggak mau bikin Bu Salma putus asa. Gue ingatkan mereka pada prinsip penting dari Paul Baltes yang dulu bikin gue terperangah: perkembangan manusia itu punya plastisitas. Otak manusia bukan semen yang langsung mengeras permanen setelah dicetak. Otak anak punya kemampuan luar biasa untuk pulih dan menumbuhkan sambungan sinapsis baru jika lingkungannya diubah secara radikal.

Masa usia tiga tahun ini adalah periode sensitif, bukan periode kritis yang tertutup rapat. Penelitian Michael Rutter pada anak-anak panti asuhan menunjukkan bahwa anak yang diadopsi dan mendapatkan pengasuhan yang responsif serta konsisten sebelum usia tertentu masih punya peluang besar untuk mengejar ketertinggalan emosional dan kognitifnya. Perubahan itu mungkin, tapi butuh waktu yang panjang dan kesabaran yang nggak masuk akal.


Mengapa Mubaleg Perlu Belajar Menahan Fatwa Cepat

Lo mungkin heran kenapa gue cerita sedetail ini ke lo, Dik.

Waktu gue seumuran lo, duduk di kelas pengantar psikologi semester satu sambil menghafal kitab di asrama, gue sombong. Gue merasa ilmu-ilmu sekuler kayak gini cuma pelengkap yang muter-muter. Kalau ada keluarga jamaah yang bermasalah, solusi gue cepat dan seragam: sabar, ikhlas, tambah salat tahajud, bersyukur. Gue pernah menasihati seorang bapak yang depresi dengan kalimat: “Hati yang mengingat Allah pasti tenang, jadi kalau belum tenang berarti dzikirnya belum tulus.”

Itu kebodohan terbesar dalam hidup dakwah gue. Kalimat itu bukan menyembuhkan, tapi membebani orang yang saraf otaknya lagi korsleting karena trauma masa lalu.

Malam itu di Melbourne, gue menahan diri buat nggak ceramah satu ayat pun sampai gue selesai membedah kondisi Dani dari kacamata perkembangan emosi dan saraf. Baru setelah Pak Fauzan dan Bu Salma terdiam mendengar analisis itu, gue ajak mereka bicara soal makna amanah. Pak Fauzan yang tadinya bersandar jumawa, mulai menundukkan kepala. Dia sadar, keputusannya mengadopsi anak ini adalah tugas generativitas, tugas masa dewasa madya menurut Erikson di mana orang dewasa terpanggil membimbing generasi berikutnya, bukan proyek gengsi sosial biar dipandang sebagai keluarga muslim yang sempurna.

Keluarga ini nggak butuh khotbah moral. Mereka butuh peta jalan penanganan: terapi keluarga, kelas pengasuhan berbasis trauma, dan yang paling utama, menurunkan ekspektasi mereka ke titik nol. Gue bilang ke Bu Salma: “Jangan harap Dani bakal manggil Ibu dengan mata berbinar-binar dalam tiga bulan pertama. Waktu dia lemas dalam pelukan Ibu, jangan paksa dia merespons. Taruh tangan Ibu di punggungnya, biarkan detak jantung Ibu yang menurunkan kortisol di kepalanya. Kelekatan itu dibangun bukan dari ceramah sopan santun, tapi dari pengulangan kehadiran Ibu yang nggak pernah absen tiap kali dia ketakutan.”

Perjalanan mereka masih sangat panjang, Dik. Perubahan manusia itu lambat, bergerak multi-arah, kadang maju selangkah lalu mundur dua langkah. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Bu Salma berhenti memandang calon anak asuhnya sebagai ‘anak rusak’, dan Pak Fauzan berhenti menganggap enteng pengasuhan.


Peta Materi UTS: Yang Bakal Nembak Lo di Lembar Soal

Sekarang, Dik, tarik napas dulu. Gue tahu UTS lo udah tinggal hitungan hari dan lo pasti lagi pusing membagi waktu antara hafalan setoran pondok sama modul-modul kuliah online. Biar belajar lo nggak buyar, gue petakan konsep-konsep kunci dari materi yang berpotensi besar menghantam lembar ujian lo.

Bagian A: Jebakan Pilihan Ganda (Tutup Buku, Cepat dan Presisi)

Lo harus kuasai istilah dan definisi operasional dari materi-materi awal sampai akhir:

  • Prinsip Masa Hidup Baltes (Sesi 1): Ingat enam pilar utamanya. Perkembangan itu seumur hidup, multi-arah (ada untung ada rugi bersamaan), multidimensional (fisik, kognitif, psikososial), multidisipliner, punya plastisitas, dan multi-kontekstual (pengaruh usia normatif, sejarah normatif/kohort, dan peristiwa non-normatif). Jangan sampai ketukar antara plastisitas sama stabilitas.
  • Isu Besar Perkembangan (Sesi 2): Pahami perdebatan kontinu vs diskontinu (kumulatif vs tahapan bertingkat), nature vs nurture (interaksi timbal balik, bukan milih salah satu), serta reciprocal determinism milik Bandura.
  • Tahapan Kelekatan & Tokoh (Sesi 3 & 4): Hafalkan empat tahap kelekatan Schaffer & Emerson (pra-pelekatan, tidak diskriminatif, diskriminatif, ganda). Ingat temuan Harlow (kenyamanan kontak mengalahkan makanan) dan perbedaan tipe kelekatan Ainsworth (secure, insecure-avoidant, insecure-ambivalent) plus tipe disorganized dari Main & Solomon. Cermati dampak stres toksik terhadap kortisol dan otak.
  • Piaget vs Vygotsky (Sesi 6 & 7): Kuasai ciri tahap praoperasional (2-7 tahun): egosentrisme, animisme, kegagalan konservasi, dan penalaran intuitif. Bandingkan dengan tahap operasional konkret (7-11 tahun) yang sudah mampu konservasi dan klasifikasi objek nyata. Vygotsky menekankan peran sosial budaya dan bahasa sebagai mediator, beda dengan Piaget yang menekankan pematangan biologis mandiri.
  • Remaja & Hormon (Sesi 8, 9, 10): Pubertas dipicu rute HPA axis (hipotalamus-hipofisis-adrenal) dan kelenjar gonad. Pahami kenapa remaja impulsif: sistem limbik (emosi) matang lebih cepat daripada korteks prefrontal. Krisis identitas Erikson (identitas vs kebingungan peran) beserta statusnya: diffusion, foreclosure, moratorium, dan pencapaian identitas.
  • Emerging Adulthood sampai Masa Dewasa (Sesi 11, 12, 13): Usia 18-25 tahun sebagai masa eksplorasi dan pengambilan risiko tertinggi, model diatesis-stress, teori cinta Sternberg (gairah, keintiman, komitmen). Masuk dewasa: kepribadian Big Five yang stabil di usia 30-50, konsep generativitas vs stagnasi, beban alostatik, serta penghargaan intrinsik vs ekstrinsik dalam kerja.
  • Lansia & Thanatologi (Sesi 14 & 15): Penurunan kecerdasan cair (fluid) vs stabilitas kecerdasan mengkristal (crystallized). Teori penuaan aktivitas vs pelepasan diri (disengagement). Lima tahap kedukaan Kübler-Ross (penyangkalan, marah, tawar-menawar, depresi, penerimaan), bahaya SIDS pada bayi, dan konsep ego-integritas vs keputusasaan.

Bagian B: Studi Kasus Esai (Buka Buku, Pisau Analisis Harus Tajam)

Di sesi esai, dosen biasanya menyajikan narasi perilaku anak atau orang dewasa lalu meminta lo membedahnya:

  1. Kasus Kelekatan Ainsworth dan IWM Bowlby: Kalau ada skenario anak menangis saat ditinggal lalu menolak dipeluk atau memukul saat ibu kembali, tembak langsung dengan konsep insecure-ambivalent. Jika anak cuek bebek dan pura-pura mainan, itu insecure-avoidant. Hubungkan langsung perilaku itu dengan tingkat responsivitas pengasuh dan bagaimana anak menyusun Internal Working Model (IWM) tentang penerimaan orang tua.
  2. Kasus Gangguan Kelekatan DSM-5 (RAD vs DSED): Bedakan secara tegas. Dua anak bisa sama-sama korban penelantaran panti asuhan, tapi anak A bisa jadi RAD (menarik diri, menolak kontak fisik, waspada, agresif), sementara anak B jadi DSED (terlalu akrab pada orang asing, minim rasa takut, tidak mencari orang tua saat tertekan). Jangan tertukar gejalanya, dan sebutkan bahwa pemicunya adalah ketiadaan figur pengasuh utama yang konsisten di periode sensitif.

Kemarin sore, Bu Salma kirim pesan singkat ke ponsel gue. Mereka sudah membawa Dani pulang ke rumah untuk masa percobaan satu pekan. Dani masih belum bersuara, masih kaku, dan waktu diajak jalan ke supermarket kemarin, Dani sempat memegang tangan kasir yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Tapi Bu Salma bilang, dia nggak panik lagi. Dia berlutut di samping Dani, memegang tangan kecil itu lembut, lalu menuntunnya kembali ke genggamannya sendiri tanpa memarahi.

Sebuah langkah kecil dari perjalanan yang mungkin makan waktu bertahun-tahun.

Sekarang giliran lo, Dik. Waktu lo baca laporan Dani tadi, bagian mana yang pertama kali bikin lo tersentil? Lo pernah nggak tanpa sadar menghakimi santri baru di pondok lo yang pendiam atau yang suka caper ke ustadz sebagai anak yang aneh, padahal mungkin sistem kelekatannya sedang berteriak minta tolong? Dan sejauh mana lo siap memakai ilmu ini bukan sekadar buat dapet nilai A di lembar ujian, tapi buat memahami retakan jiwa manusia yang nanti bakal lo hadapi di masyarakat?

Saran konkret gue buat persiapan ujian lo yang tinggal hitungan hari: malam ini tutup dulu bab-bab lain, buka dan kuasai materi Sesi 3, 4, dan 5 soal kelekatan serta gangguannya sampai lo paham alur kasusnya di luar kepala. Setelah itu lompat ke Sesi 6 dan 7 buat membedah perkembangan kognitif anak, baru lo rapikan konsep payungnya di Sesi 1 dan 2. Sisanya soal remaja sampai lansia bisa lo cicil sambil membaca alur krisis Erikson.

Selamat belajar. Jangan lupa jaga tidur lo.

Dean


💬 Diskusi

Mau ikut nimbrung atau menjawab pertanyaan di atas? Login pakai akun GitHub untuk meninggalkan komentar.


← Semua tulisan