Dean's Message: Celana Basah di Ruang Konseling dan Nasihat Agama yang Bikin Makin Hancur

Collab Journal · 3 November 2026

Anak lima tahun ngompol lagi setelah dua tahun kering, dan orang tuanya di ambang cerai. Kata orang, anak sekecil itu nggak ngerti apa-apa.

Hai, Dik.

Bau pesing itu masih nempel di ingatan gue waktu Fajar narik tangan anaknya masuk ke ruangan. Lo bayangin, laki-laki tiga puluhan tahun, rapi, aktivis masjid di sini, mukanya merah padam nahan malu bercampur dongkol. Di sebelahnya, Sarah, istrinya, jalan nunduk sambil megangi ujung jilbabnya yang kusut. Di antara mereka berdua ada Ziyad. Umurnya baru enam tahun, seragam sekolah dasarnya masih baru, tapi bagian depan celana abu-abunya basah kuyup menggelap sampai ke lutut. Ziyad nggak nangis meraung-raung. Dia cuma menggigil, merapatkan badannya ke paha ibunya kayak anak kucing mau tenggelam, sementara bapaknya terus ngedumel pelan: “Bikin malu. Sudah besar tapi kelakuan kayak bayi.”

Lo inget kan waktu lo cerita soal temen pondok lo yang mendadak mogok hafalan terus dicap malas sama pengurus? Waktu lo cerita itu, gue langsung teringat Ziyad. Soalnya beberapa tahun lalu, sebelum gue kenal bacaan-bacaan yang sekarang lagi lo hadapi buat ujian, gue juga bakal ngomong hal dangkal yang sama ke Fajar: sabar, banyakin istighfar, nasihati anaknya pelan-pelan. Dulu gue pikir, kalau bapak-ibunya rajin shalat dan rumahnya penuh kajian, jiwa anak otomatis beres. Kalau anak bermasalah, berarti orang tuanya kurang ikhlas atau anaknya emang bandel. Jahil banget gue dulu, Dik. Asli, gue malu kalau ingat ceramah-ceramah awal gue.


“Anak Segitu Mah Nggak Ngerti Apa-apa, Tinggal Kasih Makan Aja”

Dua hari sebelum mereka datang ke meja konseling gue, Sarah sempat curhat di majelis taklim ibu-ibu. Rumah tangga mereka memang sudah di ujung tanduk, meja makan udah berbulan-bulan cuma jadi saksi bisu perang dingin dan bentakan di balik pintu kamar. Pas Sarah nangis nyeritain Ziyad yang tiba-tiba ngompol lagi padahal udah dua tahun lulus lepas popok, tebak apa kata ibu-ibu di sana? Persis kalimat di atas: anak kecil belum ada akalnya, nggak paham urusan orang tua, yang penting susunya cukup, makan kenyang, nanti juga normal sendiri.

Ini bagian yang gue takut lo skip pas belajar materi tentang hakikat jiwa dan fitrah manusia.

Gue tatap Fajar siang itu, terus gue tanya pelan, “Mas Fajar, Mas beneran mikir Ziyad nggak ngerti apa yang terjadi di rumah?”

Fajar bela diri. Katanya, kalau mereka bertengkar selalu berbisik atau nunggu Ziyad tidur. Menurut Fajar, anak usia segitu pikirannya masih kosong, belum bisa mikir rumit. Di kepalanya, anak lahir itu ibarat papan tulis kosong (tabula rasa), istilah pinjaman dari behaviorisme Watson yang dulu diagung-agungkan itu. Seolah anak cuma bereaksi kalau ada stimulus langsung di depan matanya.

Padahal Al-Qur’an dan Sunnah dari awal nggak pernah memandang anak sebagai wadah kosong pasif. Sejak dalam rahim, waktu fase nuthfah, ‘alaqah, sampai khalqon ‘akhara, kehidupan psikologis itu sudah berjalan. Panca indera anak aktif sejak hari pertama lahir. Fitrah itu bukan cuma potensi tauhid, tapi watak alamiah bawaan yang suci dan peka membaca dunia. Ziyad mungkin belum punya perbendaharaan kata buat memahami kata “cerai”, “nafkah”, atau “pengadilan”. Tapi telinga dan matanya menangkap getaran tegang, pupil mata ibunya yang membesar karena takut, intonasi bapaknya yang mengeras, dan dinginnya udara rumah.

Anak itu membaca rasa sebelum dia mengerti bahasa. Anggapan Kristen abad pertengahan soal anak lahir dengan dosa asal bikin anak dipandang penuh cacat moral yang harus dicambuk, sedangkan kaum materialis Barat memandangnya cuma mesin biologis kosong. Islam mendudukkan anak di atas fitrah. Fitrah Ziyad menangkap ada bahaya besar yang mengancam sarangnya. Dan tubuhnya merespons jauh lebih jujur daripada bibirnya.


Kenapa Anak Usia Sekolah Tiba-tiba Jadi Bayi Lagi?

Coba lo tebak apa yang terjadi di tubuh Ziyad secara psikologis?

Waktu gue ajak Fajar duduk berdua tanpa istrinya, gue sodorin satu istilah yang bakal lo temuin di bahasan masalah keluarga: perilaku retrogresif. Fajar bengong pas gue sebut kata itu. Perilaku retrogresif itu mekanisme saat anak yang terhantam stres luar biasa mendadak mundur ke tahap perkembangan sebelumnya. Anak usia dua sampai lima tahun, atau yang baru transisi masuk sekolah dasar kayak Ziyad, kalau rumah tangganya retak (broken home), respons stresnya bukan ngajak debat orang tua. Mereka nggak bisa bilang, “Ibu, Bapak, saya cemas kalian pisah.” Yang keluar adalah ngompol lagi, mimpi buruk, ngisap jempol lagi, atau mendadak nggak bisa makan sendiri.

Di lembar catatan konseling, Fajar nulis keluhan: Ziyad sekarang jadi Anak Bermasalah. Lo yang lagi ngafalin stereotip peran anak di keluarga disfungsional pasti ngeh istilah ini. Fajar nggak sadar kalau dia sendiri yang mendorong Ziyad jadi kambing hitam, biar Fajar nggak perlu menghadapi fakta bahwa pernikahan dia yang bobrok.

“Mas,” kata gue ke Fajar, “anak Mas bukan sengaja bikin jengkel biar Mas telat kerja. Ziyad ngompol karena sistem sarafnya kewalahan. Kandung kemihnya nggak sanggup nahan sinyal bahaya yang tiap malam dia dengar dari kamar Mas.”

Di materi yang lagi lo pelajari, Islam ngasih jalan keluar waktu rumah tangga goyah lewat tahapan yang tertib di surah An-Nisa ayat 34 sampai 35: ada nasihat, pisah ranjang, pukulan simbolik tanpa bekas, lalu juru damai (arbitrase) dari dua belah pihak keluarga. Kenapa jalurnya dibikin berlapis dan nggak boleh ujug-ujug talak? Karena benturan perceraian itu gelombang kejutnya menghantam anak paling telak. Fajar dan Sarah lupa tahapan itu. Mereka skip arbitrase, langsung lompat saling lempar ancaman cerai di depan mata Ziyad. Akibatnya, Ziyad yang belum baligh itu harus nanggung beban emosional orang dewasa.


Nempel ke Ibu Bukan Manja, Itu Strategi Bertahan Hidup

Lo pernah nggak sih, Dik, ngeliat orang tua yang kalau anaknya nangis malah dibentak, “Diem! Jangan cengeng! Nanti gedenya lembek!”

Waktu sesi kedua bareng Sarah, Ziyad sempat kejatuhan tempat pensil di ruang konseling. Bunyinya agak keras. Ziyad langsung tersentak, lari, meluk pinggang Sarah kencang banget sampai mukanya disembunyiin di lipatan baju ibunya. Fajar refleks mau narik tangan Ziyad, “Tuh kan, manja lagi. Dikit-dikit nempel ibu.”

Gue tahan tangan Fajar. “Mas, biarin dulu. Jangan ditarik.”

Ini pisau bedah berikutnya yang harus lo asah buat ujian: teori kelekatan (attachment) dari Bowlby dan eksperimen induk kera Harry Harlow. Ibu-ibu kajian kemarin bilang anak cukup dikasih makan. Itu persis kayak kera kawatnya Harlow yang cuma ngasih susu botol. Bayi kera ternyata kelaparan sentuhan: mereka lari ke kera boneka kain yang empuk dan hangat, bukan ke kera kawat berduri yang bawa makanan. Harlow nemuin konsep kenyamanan kontak. Sentuhan fisik, pelukan, rasa aman itu bukan bonus pengasuhan, Dik. Itu bahan bakar dasar perkembangan emosi.

Kelekatan aman itu pondasi tempat anak membangun model kerja (working model) tentang dunia. Dari cara Sarah meluk dan mendekap Ziyad waktu kecil, Ziyad belajar: “Dunia ini aman nggak ya? Orang bisa dipercaya nggak ya?”

Dua tahun pertama hidup manusia adalah masa plastisitas otak paling gila. Ibu atau pengasuh utama itu fungsinya sebagai pengatur eksternal psikobiologis anak. Anak balita belum punya kapasitas buat nurunin detak jantungnya sendiri pas panik, mereka butuh dipeluk biar detak jantungnya stabil ngikutin detak jantung ibunya.

Sekarang, bayangin posisi Ziyad: bapaknya dingin dan penuh tuntutan, rumahnya penuh bentakan. Satu-satunya pelampung keselamatan yang dia kenal di muka bumi cuma ibunya. Nempel ke ibu itu bukan perilaku manja atau kemunduran akhlak, itu strategi pertahanan hidup paling masuk akal yang dipunya anak umur enam tahun biar jiwanya nggak hancur berkeping-keping.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam paham betul soal kenyamanan kontak ini ribuan tahun sebelum Harlow bikin eksperimen. Beliau memangku cucu-cucunya, mencium mereka di depan para sahabat yang kaku, membelai kepala anak-anak, bahkan waktu anak kecil bernama Abu Umair burung pipitnya mati, Nabi datang menghibur, duduk bareng, menghargai kesedihannya. Nabi nggak bilang, “Cuma burung mati aja cengeng!” Beliau membangun memori episodik yang hangat. Fajar tertegun pas gue ceritain hadits itu. Matanya mulai basah. Selama ini dia ngira mendidik anak laki-laki itu harus pakai gaya otoriter: tuntutan setinggi langit tapi tanggapan dan kehangatannya nol.


Kalau Rumah Dingin, Jalanan Bakal Jadi Rumahnya

Ini bagian yang bikin gue merinding waktu natap masa depan Ziyad, dan gue harap lo bener-bener renungin ini buat dakwah lo di pondok nanti.

Gue tanya ke Fajar dan Sarah waktu kami duduk bertiga di akhir sesi ketiga, “Mas, Mbak, kalau suasana rumah ini nggak berubah, kalian tahu Ziyad bakal lari ke mana pas umur sepuluh atau dua belas tahun?”

Harlow bikin peta yang jelas soal tiga sistem kasih sayang yang harus terpenuhi berurutan: pertama sistem kasih sayang ibu (syaratnya kenyamanan kontak), kedua sistem teman sebaya (syaratnya kepercayaan pada orang lain), ketiga sistem seksual atau lawan jenis pas remaja (syaratnya kemampuan mengomunikasikan emosi). Lo nggak bisa lompat ke tahap berikutnya kalau tahap sebelumnya cacat.

Kalau di rumah Ziyad nggak pernah dapet kenyamanan kontak dan rasa aman, dia bakal masuk ke fase teman sebaya (peer group) dengan kondisi jiwa lapar pengakuan. Dan lo udah baca kan materi soal konformitas teman sebaya? Anak umur empat tahun aja, dalam eksperimen sosial sederhana, tiga dari empat anak bakal milih ngikutin jawaban mayoritas kelompok yang jelas-jelas salah cuma biar diterima dan nggak dikucilkan.

Apalagi anak usia belasan yang rumahnya berantakan? Data di materi lo nunjukin hampir 70 persen pelaku kenakalan berasal dari keluarga yang retak. Kenapa? Karena anak-anak ini putus asa pengen punya ingroup. Mereka butuh tempat berlabuh. Di surah Al-An’am ayat 116, Allah udah ngingetin bahaya ngikutin mayoritas di muka bumi yang bisa menyesatkan dari jalan kebenaran. Tapi anak yang jiwanya rapuh nggak punya daya tahan buat menggenggam bara api sendirian. Kalau orang tuanya dingin, Ziyad bakal menyerah pada tekanan teman sebaya. Dia bakal ikut apa pun yang disuruh tongkrongannya asal dia dianggap ada, asal dia nggak dibuang lagi kayak yang dia rasain di rumahnya sendiri.

Rasulullah ngibaratkan teman bergaul itu kayak penjual minyak wangi atau pandai besi. Masalahnya, anak yang fitrah kelekatannya terluka di rumah bakal sengaja nyari pandai besi, karena bau asap dan percikan apinya terasa lebih nyata daripada rumah orang tuanya yang beku.


Peta Materi UTS: Ini yang Bakal Nembak Lo di Lembar Soal

Nah, Dik, biar kepala lo nggak cuma penuh drama keluarga Ziyad pas lembar ujian dibagikan hitungan hari lagi, ini contekan peta medan tempur lo. Format ujian lo kan Bagian A pilihan ganda tertutup (30 soal, 45 menit) dan Bagian B analisis kasus terbuka (5 esai, 75 menit). Dosen lo nggak bakal minta lo ngafal curhatan Fajar, tapi pisau bedah yang gue pakai tadi bakal keluar semua di soal.

Ini ringkasan amunisi yang wajib nempel di kepala lo:

  • Pondasi Epistemologi & Sejarah (Sesi 1, 2, 3)
    • Hafalkan enam tingkat pembelajaran: pengetahuan sampai evaluasi. Soal tertutup nguji level bawah, studi kasus nguji analisis-evaluasi.
    • Bandingkan konsep anak: Arab jahiliyah bunuh bayi perempuan (al-maudah, QS At-Takwir 8), Romawi kuno hak ayah mutlak bunuh/jual anak, Abad Pertengahan Eropa masa kemunduran, era post-modern hukum hak anak.
    • Teologi krusial: Kristen berangkat dari dosa asal, Islam berangkat dari kebaikan asal (fitrah).
    • Empat istilah jiwa Al-Qur’an: ruh (urusan Allah, QS Al-Isra 85), nafs (jiwa/diri), fitrah (potensi bawaan/tauhid), aql/fikir (daya pikir).
  • Metodologi Penelitian Islam (Sesi 4 & 5)
    • Hidayah lewat dua jalur: tanda terbaca (wahyu) dan tanda teramati (alam/sosial). Ijtihad sah asal nggak nabrak yang definitif.
    • Korelasi bukan sebab-akibat. Prinsip sadd al-dharai’ jadi analogi korelasi dalam fiqih.
    • Metode favorit Al-Qur’an: observasi naturalistik.
    • Sampling: teladan Nabi di Hajar Aswad itu stratified sampling. Hindari convenient sampling dan voluntary response.
    • Kaidah etika Al-Qaradawi: cegah mungkar lebih utama dari dorong kebaikan; jangan hapus jahat pakai jahat; pilih mudarat terkecil. Kesejajaran statistik inferensial dengan tingkatan hadits: Mutawatir, Masyhur, Aziz, Gharib.
  • Awal Kehidupan: Janin & Bayi (Sesi 6, 7, 8)
    • Hafal urutan delapan tahap embrio QS Al-Mu’minun 12-14: sari pati tanah, nuthfah, qoroorin makiinn, ‘alaqah, mudhghah, ‘idhoom, tulang dibungkus daging, khalqon ‘akhara.
    • Faktor perusak janin: alkohol (Sindrom Janin Alkoholik, nggak ada batas aman), rokok (SIDS/prematur, posisi tidur bayi harus telentang), stres ibu (lingkaran stres tak berujung).
    • Fitrah vs Behaviorisme: fitrah (QS Ar-Rum 30) bawaan suci vs tabula rasa Watson. Bayi bukan makhluk pasif, punya periode kritis. Sunnah lahir: tahnik, azan, aqiqah, sunat hari ketujuh, nama baik.
    • Menyusui (QS Al-Baqarah 233): hak anak dua tahun, ayah wajib nafkah. Manfaat medis: hormon oksitosin bantu involusi uterus, metode LAM, antibodi Secretory IgA, pangkas risiko SIDS sampai 50 persen.
  • Sosial & Pengasuhan (Sesi 9, 10, 11, 12)
    • Kelekatan Bowlby: working model, pola aman vs tidak aman (menghindar, ambivalen/resisten, disorientasi). Dua tahun pertama adalah puncak plastisitas otak.
    • Keluarga Muslim: QS Ar-Rum 21, peran komplementer ayah-ibu, adab isti’zan izin masuk di tiga waktu.
    • Gaya pengasuhan (Baumrind): sumbu tanggapan (responsiveness) vs tuntutan (demandingness). Islam cuma terima autoritatif (responsif sekaligus menuntut secara rasional). Otoriter, memanjakan, abai ditolak.
    • Keluarga disfungsional: enam peran anak (Anak Baik, Anak Bermasalah, Si Pengurus, Anak Hilang, Si Maskot, Si Dalang).
    • Dampak perceraian: usia 2-5 tahun perilaku retrogresif (mengompol), 6-9 tahun marah, 10-13 tahun depresi. Jalur damai: arbitrase (QS An-Nisa 34-35) dan nafkah mut’ah.
  • Lingkungan Luar & Emosi (Sesi 13, 14, 15)
    • Tekanan teman sebaya: konformitas dimulai sejak TK (studi 3 dari 4 anak ikut salah). Perumpamaan teman: pembawa kesturi vs pandai besi.
    • Umat vs Rasisme: tolak asabiyyah. Piagam Khotbah Wada (takwa satu-satunya ukuran), tes boneka bukti rasisme implisit sejak dini, bias ingroup vs outgroup.
    • Teori Harlow: monyet kain vs kawat, pembuktian kenyamanan kontak. Tiga sistem kasih sayang berurutan (ibu -> teman sebaya -> seksual). Teladan Nabi: memori episodik Abu Umair, pisah ranjang usia 10 tahun (QS An-Nur 58-59).

Nggak Ada yang Instan di Meja Konseling

Kemarin sore Fajar datang lagi, Dik. Kali ini sendiri, tanpa Sarah.

Gue nggak mau bohong ke lo seolah-olah setelah tiga kali konseling pernikahan mereka langsung mesra kayak di film religi. Nggak sama sekali. Luka mereka berdua dalam, egonya masih sering bentrok, dan proses arbitrase keluarga besar masih alot jalan di tempat. Tapi ada satu hal kecil yang bikin dada gue lega pas Fajar cerita.

Kemarin subuh, Ziyad ngompol lagi di kasur. Fajar yang biasanya langsung teriak murka, kali ini berhenti di ambang pintu kamar. Dia tarik napas panjang, jalan mendekat, lalu dia peluk tubuh Ziyad yang lagi gemetar ketakutan. Dia bisikkan ke telinga anaknya, “Nggak apa-apa, Nak. Maafin Bapak ya. Ayo ganti celana dulu, kita wudhu bareng.”

Ziyad nggak lari sembunyi ke kolong meja. Dia nangis sesenggukan di pundak bapaknya. Dan itu, Dik, langkah awal fitrahnya mulai bernapas lagi.

Sekarang giliran lo yang gue tanya:

  1. Pas lo ngeliat anak santri di pondok lo yang tiba-tiba memberontak atau melanggar aturan, lo masih mau langsung ngecap mereka kurang iman, atau lo bakal nyari tahu sistem kelekatan mana di rumahnya yang dulu patah?
  2. Kalau di soal studi kasus keluar cerita anak pendiam tapi cemas luar biasa karena bapaknya yang ustadz suka mukul pakai dalil shalat, konsep pengasuhan mana yang bakal lo pakai buat membongkar kekeliruan itu tanpa menjatuhkan syariatnya?

Ujian lo udah tinggal hitungan hari. Saran gue yang konkret: jangan baca loncat-loncat. Malam ini lo buka dulu Sesi 1 sampai 3 biar cara pandang lo soal jiwa manusia bersih dari kacamata sekuler. Besoknya, babat Sesi 6 sampai 8 buat ngunci siklus prenatal dan bayi. Terakhir, sambungin Sesi 9, 11, 12, dan 15 jadi satu tarikan napas soal kelekatan, pengasuhan, dan emosi anak. Lo bakal liat benang merahnya nyambung rapi banget.

Selamat belajar di pondok, Dik. Jangan cuma ngafal buat lembar jawaban dosen, tapi hafalkan buat bekal nyelametin anak-anak kayak Ziyad pas lo pulang ke masyarakat nanti.

Dean


💬 Diskusi

Mau ikut nimbrung atau menjawab pertanyaan di atas? Login pakai akun GitHub untuk meninggalkan komentar.


← Semua tulisan