Mas Hendra cuma ngelirik layar laptop gua sekilas, tapi celetukannya bikin gua ngecek PDDikti, BAN-PT, dan LAM sampai jam sebelas malam.
Jam sebelas malam, gua masih nangkring di depan laptop sambil nungguin satu situs pemerintah yang loading-nya lebih lambat daripada lift kantor. Nama kampusnya gua ketik ulang buat ketiga kalinya: kampus swasta di Jawa Tengah yang dua hari lalu ngirim tawaran joint-curriculum ke email gua, lengkap sama draft MoU bernomor cantik, cap stempel basah warna ungu terang, dan janji sertifikat barengan yang katanya “bisa dikonversi jadi SKS resmi”.
Gua sempat bengong semenit sambil nguyup kopi saset. Lumayan mbois kan ya kalau kelas akhir pekan gua yang isinya cuma 20 orang itu bisa ngeluarin sertifikat berlogo garuda plus cap universitas? Kelihatan naik kelas seketika.
Sore tadi di kantor, pas gua lagi senyum-senyum sendiri ngebayangin materi presentasi gua dipajang di brosur kampus mereka, Mas Hendra mendadak melintas di belakang kursi gua. Dia cuma ngelirik sekilas ke layar laptop gua, mukanya datar tanpa ekspresi kayak biasa, terus nyeletuk pendek:
“Yan, jangan keburu nafsu sama logo kampus. Cek dulu dalemannya. Jangan sampai kita jualan angin.”
Habis ngomong gitu, Mas Hendra ngeloyor pergi ke pantry buat nyeduh teh tawar. Celetukan singkat itu rasanya kayak disiram air es pas lagi mimpi dapet doorprize mobil. Gua langsung buru-buru nutup draft balasan email yang udah separuh gua ketik. Gua sadar, gua hampir aja kemakan ilusi gengsi akademis.
Sertifikat Bodong Itu Seharga Kertas Bungkus Gorengan
Lu pasti tau kelakuan cici gua, si Mel, yang pegang toko kain warisan papi di Surabaya Pasar Atom. Mel itu kalau ada sales nawarin stok sutra impor murah meriah, dia nggak bakal silau sama foto pabriknya yang megah atau katalognya yang mengilap. Hal pertama yang dia minta selalu sama: “Tunjukin izin edar sama faktur pajaknya. Gak usah kakehan cangkem.”
Mel tau betul, kain semahal apa pun kalau statusnya selundupan atau abal-abal, ujung-ujungnya toko bakal kena garuk petugas atau pelanggan bakal komplain pas kainnya dicuci sekali langsung luntur ambyar.
Dunia pendidikan tinggi kita itu persis kayak gitu, Sar. Banyak orang, terutama yang baru mulai bikin kelas online atau boot camp, gampang banget silau pas ada perwakilan kampus nawarin kolaborasi. Rasanya kayak dapet validasi dari institusi resmi. Tapi lu tau nggak fakta pahitnya? Ijazah atau sertifikat dari institusi yang nggak terakreditasi itu nilainya kosong secara hukum. Nol besar.
Di mata pemerintah, ijazah dari kampus yang izin operasionalnya bermasalah atau status akreditasinya kedaluwarsa itu cuma selembar karton manila tebal yang dicetak pakai tinta emas timbul. Lu bingkai pakai kayu jati pun, kertas itu nggak bakal bisa dipakai buat daftar CPNS, nggak bakal lolos seleksi berkas di BUMN, dan kalau dicek di database kementerian, nama mahasiswanya nggak tercatat alias gaib. Bayangin lu udah bayar puluhan juta rupiah, begadang tiap malam ngerjain tugas kuliah, terus pas lulus lu baru sadar kalau ijazah lu nggak ada bedanya sama nota belanja minimarket. Horor pol.
Makanya, sebelum lu atau gua ngebahas klausul kerja sama, bagi hasil, atau teknis kurikulum di atas kertas MoU, ada satu pintu gerbang yang wajib hukumnya dibuka dan diperiksa jerowannya: akreditasi institusi dan program studinya.
BAN-PT vs LAM: Bedah Payung Sama Cucuran Airnya
Pas gua ngerjain tugas review tata kelola sistem pendidikan tinggi buat modul kuliah online S2 gua kemarin, gua baru bener-bener ngeh betapa ketatnya pergeseran sistem akreditasi di Indonesia sekarang. Masih banyak praktisi pendidikan yang gagal paham bedanya BAN-PT sama LAM, dikiranya dua barang ini sama aja. Padahal fungsinya beda ranah.
Gampangnya gini, Sar:
BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi) itu ibarat yang ngecek izin kelayakan satu gedung mall secara keseluruhan. Dia yang pegang Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT). BAN-PT ngecek apakah universitas atau institut tersebut tata kelolanya bener, sistem penjaminan mutu internalnya jalan, keuangannya sehat, dan fasilitas umumnya masuk akal. Statusnya sekarang pakai istilah Unggul, Baik Sekali, Baik, atau N/A alias belum terakreditasi. Kalau institusinya aja nggak terakreditasi BAN-PT, jangan mimpi prodi di dalemnya bisa tenang. Gedung mall-nya aja rawan roboh, masa lu mau sewa ruko di dalemnya?
LAM (Lembaga Akreditasi Mandiri) itu badan khusus yang ngecek kelayakan spesifik dari masing-masing toko di dalem mall tadi alias Program Studi (Prodi). Dulu semua urusan prodi emang diborong sama BAN-PT. Tapi regulasi sekarang udah mecah itu biar penilaiannya bener-bener spesifik ke bidang keilmuannya.
- Ada LAM-PTKes buat rumpun kesehatan.
- Ada LAMDIK buat kependidikan dan teknologi pendidikan (ini yang sering dibahas dosen di kampus gua).
- Ada LAMEMBA buat ekonomi, manajemen, bisnis, dan akuntansi.
- Ada LAM INFOKOM buat informatika dan komputer. Nah, LAM INFOKOM ini sarangnya rumpun ilmu sistem informasi kayak kampus tempat lu ambil S2 sekarang, Sar.
- Ada juga LAM Teknik dan LAMSAMA buat sains alam.
Kenapa pemisahan ini krusial buat kita pahami? Karena bisa aja sebuah kampus punya akreditasi institusi “Baik Sekali” dari BAN-PT, tapi prodi spesifik yang mau ngajak kita kerja sama ternyata status akreditasi LAM-nya lagi kedaluwarsa, turun status jadi “Tidak Terakreditasi”, atau bahkan lagi kena sanksi administratif.
Kalau lu bikin program bareng mereka dan lu cantumin nama prodi tersebut di sertifikat kelulusan peserta lu, sertifikat itu cacat mutu secara hukum pendidikan. Begitu peserta lu bawa sertifikat itu buat portofolio resmi atau penyetaraan kompetensi, mereka bakal ditolak mentah-mentah. Ujung-ujungnya siapa yang disalahin? Ya penyelenggara kelasnya: lu atau gua.
Bahaya Silau Sama Selembar Kertas Bertuliskan “MoU”
Di dunia bisnis dan korporat, kita sering banget nemu orang pamer foto jabat tangan sambil megang map batik berlogo garuda. Caption di LinkedIn panjang lebar: “Alhamdulillah, telah ditandatangani MoU antara Lembaga X dengan Universitas Y.”
Lu sebagai programmer yang biasa mikir berbasis logika sistem pasti paham kalau selembar MoU (Memorandum of Understanding) itu derajatnya cuma gentlemen’s agreement. Itu cuma surat pernyataan saling naksir, belum akad nikah, apalagi sertifikat hak milik. MoU itu nggak punya konsekuensi hukum operasional yang mengikat kalau belum diturunkan jadi MoA (Memorandum of Agreement) atau PKS (Perjanjian Kerja Sama).
Banyak oknum lembaga kursus atau bahkan kampus swasta nakal yang sengaja manfaatin ketidaktahuan publik. Mereka gercep ngajak MoU ke mana-mana, tebar logo universitas di poster promosi mereka biar kelihatan prestisius, padahal akreditasi institusinya sendiri lagi sekarat. Peserta yang awam bakal mikir, “Wah, kelas ini digandeng kampus resmi nih!” Padahal status kampus mitranya sendiri lagi dalam status pembinaan kementerian alias tinggal selangkah lagi menuju dibubarkan.
Beberapa jam kemudian, begitu gua inget wanti-wanti Mas Hendra, gua batalin niat bales email manis sore tadi. Gua buka laptop, gua luangin waktu 15 menit buat ngelakuin audit investigasi mandiri sebelum melangkah lebih jauh. Dan tebak apa yang gua temuin?
Kampus yang ngajak kerja sama kelas public speaking gua itu ternyata akreditasi institusinya sudah mati sejak delapan bulan lalu dan belum diperpanjang. Lebih parah lagi, prodi ilmu komunikasi mereka statusnya di PDDikti tertulis “Alih Bentuk” yang belum disetujui, dengan rasio dosen tetap yang nggak masuk akal: satu dosen megang hampir tiga ratus mahasiswa. Gila apa. Itu kampus apa pabrik konveksi kain kiloan?
Untung gua belum tanda tangan apa pun. Kalau gua nafsuan tanda tangan cuma gara-gara pengen logo mereka nempel di sertifikat kelas gua, reputasi kelas yang udah gua bangun pelan-pelan di akhir pekan bisa hancur lebur seketika begitu borok kampus itu meledak di media.
Tiga Tab Sakti Sebelum Ambil Keputusan
Gua tau lu sering ngadain kelas proyek kreatif buat anak-anak pas liburan sekolah, Sar. Lu ngajarin nulis, coding, Canva, sampai Minecraft. Bukan nggak mungkin suatu hari nanti ada kampus swasta, politeknik lokal, atau lembaga vokasi di sekitar Bintaro atau Jakarta yang ngelirik kurikulum lu, terus mereka nawarin kerja sama: “Bu Sari, kurikulum coding anak ini keren banget. Gimana kalau kita bikin sertifikasi bareng kampus kami biar pesertanya dapet sertifikat resmi dari perguruan tinggi?”
Pasti bakal ada dorongan di dalem hati lu buat langsung bilang iya. Manusiawi pol, Sar. Siapa yang nggak bangga karyanya diakui institusi formal? Tapi tolong, rem tangan lu tarik dulu kenceng-kenceng.
Sebelum lu ngasih draf kerja sama atau nyodorin pulpen buat tanda tangan, lu wajib buka tiga tab ini di browser laptop lu:
- Tab Pertama: Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti). Ketik nama kampusnya di kolom pencarian. Cek statusnya: masih aktif atau dalam pembinaan? Cek juga rasio dosen dan mahasiswanya. Kalau kampusnya statusnya “Pembinaan”, langsung tutup pintu rapat-rapat, jangan noleh lagi.
- Tab Kedua: Direktori Institusi BAN-PT. Masuk ke laman pencarian akreditasi institusi BAN-PT. Masukin nama kampusnya. Liat status peringkatnya: Unggul, Baik Sekali, Baik, atau malah kosong melompong. Perhatiin tanggal kedaluwarsa SK-nya. Jangan sampai masa berlakunya tinggal dua minggu lagi dan mereka belum ngajuin reakreditasi.
- Tab Ketiga: Direktori LAM Terkait. Kalau kerja sama lu nyenggol bidang komputasi atau coding anak, buka database akreditasi LAM INFOKOM. Pastikan prodi yang mau lu ajak tanda tangan statusnya aktif dan punya nilai akreditasi yang sehat.
Tiga langkah verifikasi ini cuma makan waktu sepuluh menit, tapi efeknya nyelametin reputasi profesional lu buat bertahun-tahun ke depan. Di industri pendidikan, kepercayaan publik itu mahal harganya. Lu bangunnya jungkir balik bertahun-tahun, tapi bisa lenyap dalam semalam cuma gara-gara lu salah pilih partner kerja sama yang status legalitasnya bodong.
Sekarang giliran gua yang mau nanya ke lu.
Kalau besok pagi ada perwakilan kampus swasta ternama datang nawarin kerja sama buat bikin kelas bersertifikat resmi bareng program proyek kreatif anak lu di Bintaro, hal pertama apa yang bakal lu verifikasi dari status akreditasi institusi dan prodinya sebelum lu percaya buat nerusin obrolan ke draf perjanjian?
— Ian
💬 Diskusi
Mau ikut nimbrung atau menjawab pertanyaan di atas? Login pakai akun GitHub untuk meninggalkan komentar.