Jurnal Ana: Apakah Kita Cuma Kera Purba yang Kebetulan Pakai Baju Rapi?

Collab Journal · 3 November 2026

Aku kira kata evolusi itu tabu, ternyata yang perlu aku tolak bukan datanya, melainkan kesimpulan yang meniadakan tujuan hidup.

Sari, kamu pernah nggak sih merasa gemas sama orang yang mendadak jadi sinis cuma gara-gara baru selesai baca satu bab buku sains populer?

Tadi malam pas jeda kelas di kampus, ada satu teman sekelasku, namanya Julian. Orangnya pintar, tipe mahasiswa yang kalau ngomong suka pakai kacamata ditaruh di ujung hidung. Entah kenapa, tiba-tiba dia nyeletuk waktu lihat aku lagi bungkusin sisa biskuit buat dibawa pulang.

“Ana, kamu tahu nggak kenapa manusia suka berbagi?” katanya sambil senyum sok tahu. “Itu cuma trik gen kita biar spesies kita nggak punah. Reciprocal altruism. Kita baik ke orang lain cuma karena otak purba kita berharap suatu saat bakal dibalas. Aslinya, kita ini cuma mesin biologis yang egois.”

Aku cuma bisa senyum canggung, Sari. Kamu tahu sendiri kan, aku orangnya paling nggak jago kalau harus debat langsung di depan orang banyak. Rasanya ingin membantah, tapi lidahku langsung kelu. Untung pas pulang, Yusuf sudah nunggu di mobil sambil nyalain penghangat dan beliin teh hangat. Di mobil, sambil cerita ke Yusuf, aku jadi kepikiran terus soal topik kuliah kami minggu ini tentang evolutionary psychology atau psikologi evolusioner.

Malam ini, mumpung Yusuf lagi sibuk ngoding di meja sebelah dan rumah lagi tenang, aku mau curhat sekaligus merapikan catatan kuliahku buat kamu ya, Sari. Siapa tahu ini bisa jadi teman ngopi kamu di Bintaro besok pagi.


Bedanya Fakta di Lapangan sama Dongeng yang Dibuat-buat

Sari, waktu pertama kali dengar kata “evolusi”, jujur aku sempat parno duluan. Di kepala kita yang tumbuh di lingkungan religius, kata itu rasanya tabu banget. Kayak langsung otomatis mikir: “Hah, manusia dari monyet?”

Tapi dosenku di sini ngajarin satu cara pandang yang bagus banget, dan menurutku ini adil banget secara Islam. Kita harus bisa bedakan mana yang namanya fakta, dan mana yang namanya interpretasi.

Biar gampang dibayangin, anggaplah fakta itu seperti bahan mentah di dapur. Ada tepung, telur, gula. Itu nyata ada di atas meja. Nah, interpretasi itu masakan yang kamu bikin dari bahan itu. Bisa jadi bolu kukus yang enak, atau malah jadi adonan gosong karena salah resep.

Di dalam teori evolusi, ada hal-hal yang memang fakta ilmiah dan kita sebagai muslim nggak punya masalah sama sekali buat menerimanya:

  • Bumi ini usianya memang sudah sangat tua, miliaran tahun.
  • Makhluk hidup di bumi ini beraneka ragam banget jenisnya.
  • Makhluk hidup itu bisa berubah sedikit demi sedikit menyesuaikan diri sama tempat tinggalnya. Misalnya burung yang paruhnya beda bentuk karena jenis biji yang dimakan beda.
  • Genetik itu bisa mengalami mutasi.

Itu semua fakta lapangan, Sari. Para ilmuwan muslim zaman dulu juga mengamati alam dengan cara begini. Tapi, masalahnya muncul waktu fakta-fakta tadi dibumbui sama interpretasi filosofis yang kebablasan.

Apa saja interpretasi yang bermasalah itu?

  1. Anggapan bahwa semua makhluk hidup muncul dari satu titik yang sama secara kebetulan.
  2. Keyakinan bahwa seluruh hidup ini berjalan tanpa tujuan sama sekali.
  3. Prinsip bahwa satu-satunya hukum kehidupan adalah “yang kuat yang menang” (survival of the fittest), jadi keegoisan itu hal yang paling alami di dunia.

Nah, Julian tadi malam itu menelan mentah-mentah interpretasi yang ketiga, Sari. Dia mengira karena hewan bersaing di hutan, maka rasa kasih sayang manusia itu palsu. Padahal yang kita tolak itu bukan data biologisnya, tapi kesimpulan kosongnya itu.


Kalau Alam Semesta Terjadi Kebetulan, Kenapa Hati Kita Nggak Pernah Tenang?

Ini bagian yang paling bikin aku merinding waktu membaca ulang materi kuliah sambil membuka mushaf kecilku, Sari.

Paham psikologi evolusioner modern itu sangat ngotot bilang kalau manusia ini terbentuk murni karena seleksi alam yang buta. Nggak ada rencana, nggak ada maksud, nggak ada tujuan mulia. Kita cuma kebetulan ada di sini karena gen nenek moyang kita berhasil bertahan dari kejaran singa purba.

Tapi Al-Qur’an ngasih tamparan lembut tapi dalam banget di Surat Ali Imran ayat 190 sampai 191. Allah menyebut tentang orang-orang yang berakal, atau ulil albab. Siapa mereka? Mereka yang memperhatikan langit, bumi, pergantian siang dan malam, lalu sambil berdiri, duduk, atau berbaring, mereka berkata:

“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia (tanpa tujuan)…”

Kata kuncinya ada di sana, Sari: tidak sia-sia.

Islam memandang alam semesta ini penuh dengan tanda-tanda cinta dan kebesaran Pencipta. Burung kutilang punya paruh yang pas buat memecah biji bukan karena kebetulan acak yang nggak bermakna, tapi karena Allah memang mendesain sistem adaptasi yang luar biasa canggih.

Waktu anak-anak di TK tempatku mengajar tiba-tiba memeluk temannya yang lagi menangis karena jatuh, aku nggak melihat “trik gen purba” kayak yang diomongin Julian. Aku melihat fitrah. Ada percikan kasih sayang yang Allah tiupkan ke dalam jiwa manusia. Kita berbuat baik bukan cuma biar besok dibagi makanan, tapi karena jiwa kita mengenali kebaikan sebagai tujuan penciptaan kita.


Otak Kita Bukan Komputer Rusak dari Zaman Batu

Nah, sekarang kita masuk ke bagian psikologinya ya, Sari. Ada satu konsep besar di psikologi evolusioner yang namanya modular mind atau modularitas pikiran, yang katanya terbentuk di era yang disebut EEA (Environment of Evolutionary Adaptedness).

Istilahnya terdengar keren ya? Tapi sederhananya begini: Mereka percaya bahwa otak manusia itu kayak pisau lipat tentara Swiss. Ada modul khusus buat cari makan, modul buat takut sama ular, modul buat cari pasangan, modul buat bahasa. Dan modul-modul ini katanya terbentuk paten waktu nenek moyang kita masih hidup berburu di padang sabana ribuan tahun lalu.

Akibatnya, mereka sering bikin klaim aneh: “Perilaku manusia modern itu banyak yang rusak karena otak kita masih otak manusia gua yang kaget hidup di kota modern.”

Contohnya:

  • Laki-laki suka selingkuh? Oh, itu wajar, kata mereka, karena gen purbanya ingin menyebar benih sebanyak mungkin.
  • Orang suka cemas? Oh, itu modul purba yang salah sangka kalau bos di kantor itu harimau bertaring panjang.

Enak banget ya, Sari, bikin alasan biologis buat membenarkan perilaku buruk?

Tapi alhamdulillah, sains modern sendiri sekarang membantah teori kotak-kotak kaku itu. Penelitian neuroscience mutakhir membuktikan kalau otak manusia itu fleksibel banget (neuroplasticity). Otak kita bukan pisau lipat kaku, tapi sebuah jaringan hidup yang terus terhubung, belajar, dan berubah.

Kita bukan tawanan dari masa lalu biologis kita. Allah kasih kita akal, hati (qalb), dan kehendak bebas buat memilih. Kita bisa menahan nafsu makan saat puasa, padahal menurut evolusi, manusia lapar harusnya makan apa saja yang ada di depannya. Kita bisa memilih memaafkan orang lain, padahal menurut logika rimba, kita harusnya membalas dendam biar terlihat kuat.

Di situ bedanya manusia dengan binatang. Hewan memang hidup dalam hukum adaptasi murni, tapi manusia diberi amanah sebagai khalifah.


Meluruskan Cerita Soal Ilmuwan Muslim

Oh iya, Sari, aku juga sempat dengar selentingan kalau ada orang-orang yang bilang ilmuwan muslim zaman dulu kayak Al-Jahiz itu bapak teori evolusi sebelum Darwin.

Ternyata waktu dibahas di kelas sejarah pemikiran Islam, itu salah paham yang lumayan fatal. Al-Jahiz di kitabnya memang menulis kalau hewan-hewan itu berjuang buat bertahan hidup, saling memangsa biar nggak punah, dan terpengaruh sama lingkungan tempat tinggalnya.

Tapi itu cuma observasi rantai makanan biasa, Sari! Sama kayak kita melihat kucing ngejar tikus di dapur rumah kita. Al-Jahiz nggak pernah bilang kalau manusia itu hasil evolusi acak dari makhluk bersel satu tanpa campur tangan Tuhan. Mengutip ulama klasik sepotong-sepotong buat mencocok-cocokkan sama teori modern yang sekuler itu bahaya banget, bisa bikin orang salah paham sama agamanya sendiri.


Jadi, Apa Artinya Ini Buat Kelas Kreatif Kamu?

Sari, waktu lagi merenungi ini semua, aku mendadak ingat sama proyek kelas coding dan nulis cerita yang sering kamu bikin buat anak-anak sekolah pas liburan.

Zaman sekarang ini, banyak banget kurikulum teknologi atau aplikasi anak yang dirancang pakai prinsip psikologi evolusioner murahan. Maksudnya begini: anak-anak cuma dianggap sebagai organisme kecil yang digerakkan oleh tombol dopamin. Makanya banyak game atau kelas online yang isinya cuma bikin anak kecanduan poin, lencana, atau kompetisi saling mengalahkan demi ranking tertinggi (survival mode).

Padahal anak-anak itu bukan kelinci percobaan yang cuma bereaksi sama umpan. Mereka adalah calon ulil albab.

Aku jadi punya satu ide praktis buat kamu, Sari. Di kelas proyek liburan sekolah berikutnya, gimana kalau kamu coba bikin satu modul tantangan berbasis tujuan mulia (purpose-driven project)?

Misalnya begini: Kalau mereka lagi belajar coding atau bikin dunia di Minecraft, jangan cuma kasih tugas “bikin bangunan paling megah biar dapat skor tertinggi”. Coba tantang mereka: “Coba rancang sebuah sistem atau desa virtual yang bisa membantu orang tua yang sakit, atau mendistribusikan air bersih ke daerah kering.”

Ajak anak-anak itu melihat bahwa teknologi dan keterampilan logika bukan alat buat bertahan hidup sambil saling sikut, tapi alat buat memakmurkan bumi (imaratul ardh). Kita latih anak-anak sejak dini untuk menyadari bahwa mereka punya akal bukan karena kebetulan alam, tapi karena ada misi kebaikan yang harus mereka selesaikan di dunia ini.

Kira-kira kalau tantangan seperti itu dimasukkan ke proyek liburan nanti, anak-anak bakal lebih antusias nggak ya, Sari?

Salam hangat dari sudut meja makan yang mulai dingin,

Ana


💬 Diskusi

Mau ikut nimbrung atau menjawab pertanyaan di atas? Login pakai akun GitHub untuk meninggalkan komentar.


← Semua tulisan