Jurnal Ana: Bayi yang Lahir Bersih dan Pertengkaran Kecil di Ruang Guru

Collab Journal · 24 October 2026

Yang rusak cuma karpetnya, bukan jiwa Oscar. Kalau dulu kita tahu itu sejak kecil, mungkin kita tumbuh tanpa rasa takut salah yang berlebihan.

Sari, apa kabar Bintaro hari ini? Di sini anginnya lagi dingin banget. Yusuf tadi pagi sempat bujuk aku buat pakai syal dobel sebelum jalan ke kindergarten. Rasanya lucu ya, hidup di tempat yang jamnya mendahului Jakarta berjam-jam, tapi pikiran aku seringnya malah lari ke obrolan-obrolan kita di grup atau materi kuliah yang baru aja aku baca semalam.

Tadi siang, pas jam istirahat makan siang di kindergarten, ada kejadian kecil yang bikin aku kepikiran seharian. Ada satu anak laki-laki umur empat tahun, namanya Oscar. Dia sebenarnya anak yang manis, cuma energinya memang luar biasa banyak. Pas jam melukis bebas, Oscar numpahin sebotol besar cat akrilik warna biru ke atas karpet wol ruang tengah. Karpetnya langsung rusak, dan tangannya belepotan sampai ke baju.

Rekan kerjaku, Miss Claire, langsung menghela napas panjang banget di ruang guru. Dia bilang ke aku dengan nada capek, “Kids are born naturally selfish and destructive, aren’t they, Ana? We have to tame them.”

Mendengar kata tame atau menjinakkan itu, hati aku rasanya langsung mencelos, Sari. Aku cuma bisa tersenyum kecil sambil ngelap tangan Oscar pakai handuk basah. Miss Claire nggak jahat, dia cuma capek. Tapi kata-katanya itu nempel terus di kepala aku sampai tadi malam pas aku buka modul S2 Psikologi Islam.

Ternyata, cara Miss Claire memandang anak kecil yang numpahin cat itu bukan sekadar reaksi spontan orang capek. Itu adalah endapan sejarah ratusan tahun tentang bagaimana peradaban manusia memandang satu kata sederhana: anak.


Dulu, Anak Itu Cuma Properti yang Boleh Dibuang

Aku mau ajak kamu jalan-jalan sebentar ke masa lalu, zaman sebelum ada undang-undang perlindungan anak, sebelum ada konvensi PBB, bahkan jauh sebelum ada sekolah ramah anak seperti yang kamu impikan buat anak-anak di rumah.

Kalau kita belajar sejarah, gambaran tentang anak itu sebenarnya gelap banget.

Coba kita lihat peradaban Arab pra-Islam atau masa Jahiliah. Di sana, punya anak perempuan itu dianggap aib besar keluarga. Ada ketakutan jatuh miskin dan ketakutan menanggung malu. Akibatnya, ada tradisi mengerikan yang namanya al-maudah, yaitu mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Bayi mungil yang belum tahu apa-apa, baru bernapas beberapa hari, langsung dikubur ke dalam pasir gurun.

Al-Qur’an merekam tragedi itu dengan kalimat yang menyayat hati di Surah At-Takwir ayat 8 dan 9:

“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa dia dibunuh?”

Waktu baca tafsir Ibnu Katsir soal ayat ini, aku sampai berhenti lama. Pertanyaannya bukan ditujukan ke orang tuanya dulu, tapi ke bayinya: dosa apa yang kamu perbuat sampai kamu dibunuh? Pertanyaan itu bentuk pembelaan tertinggi dari Allah, sebuah sindiran telak buat manusia dewasa yang merasa punya hak mutlak atas nyawa darah dagingnya sendiri.

Nggak jauh beda, kalau kita geser pandangan ke Romawi Kuno, yang sering dipuji sebagai akar peradaban Barat modern. Di sana ada konsep hukum yang namanya patria potestas. Artinya, kekuasaan mutlak seorang ayah. Seorang ayah di Romawi berhak menjual anaknya jadi budak kalau dia butuh uang. Dia berhak membuang anaknya di jalan kalau anak itu lahir cacat atau nggak diinginkan. Anak kalangan atas sering cuma dijadikan alat adopsi politik demi mengamankan tahta dan kekuasaan keluarga.

Masuk ke Abad Pertengahan di Eropa pun, situasinya belum membaik. Anak-anak dianggap sebagai orang dewasa mini. Begitu kaki mereka bisa melangkah kokoh, mereka langsung ditarik ke ladang atau pabrik. Nggak ada ruang bermain, nggak ada konsep psikologi perkembangan. Anak adalah properti, tenaga kerja gratis, atau beban keluarga.

Mengerikan ya, Sari? Kita yang hidup di zaman sekarang sering lupa kalau rasa aman anak-anak kita hari ini dibayar dengan sejarah kelam berabad-abad.


Dosa Asal vs Kebaikan Asal: Awal Mula Kita Menilai Anak

Nah, ini bagian kuliah yang paling bikin mataku terbuka lebar semalam, dan rasanya nyambung banget sama celetukan Miss Claire di ruang guru tadi siang.

Kenapa sih peradaban Barat dan dunia psikologi modern punya kecenderungan melihat anak sebagai makhluk yang perlu “dijinakkan”? Ternyata akarnya ada pada perbandingan teologis yang sangat mendasar:

1. Pandangan Kristen Barat: Dosa Asal (Original Sin)

Dalam teologi Kristen klasik, manusia lahir ke dunia membawa luka spiritual warisan dari Adam dan Hawa, yang sering disebut sebagai dosa asal. Jadi, seorang bayi yang baru lahir dianggap sudah membawa noda dosa bawaan sejak tarikan napas pertamanya. Itulah kenapa baptisan bayi jadi sangat krusial, untuk menyucikan jiwa mereka dari dosa warisan itu.

Dampaknya ke pola asuh gimana? Karena anak dianggap lahir dengan kecenderungan alami berbuat dosa dan merusak, maka tugas utama orang tua dan sistem pendidikan adalah mendisiplinkan, menekan ego anak, meredam dorongan alaminya, dan “menjinakkan” sifat liarnya.

2. Pandangan Islam: Kebaikan Asal (Fitrah)

Islam datang dengan paradigma yang berbalik 180 derajat. Islam menolak konsep dosa turunan. Setiap anak manusia lahir ke dunia bukan membawa noda dosa, melainkan membawa cahaya suci yang disebut fitrah.

Fitrah itu modal dasar berupa kecenderungan alami pada kebaikan, keindahan, kebenaran, dan tauhid. Anak lahir dalam keadaan nol dosa, putih, bersih, dan condong pada Allah. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda bahwa setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Orang tuanyalah yang kemudian mewarnai mereka, menjadikan mereka Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Coba Sari rasakan bedanya:

  • Kalau kita percaya anak lahir membawa dosa (rusak), tugas kita adalah memperbaiki kecacatan bawaan mereka.
  • Tapi kalau kita percaya anak lahir membawa fitrah (baik), tugas kita adalah menjaga, merawat, dan memupuk benih kebaikan yang sudah Allah titipkan di dalam diri mereka.

Waktu aku duduk di karpet samping Oscar tadi siang, aku memilih cara pandang yang kedua. Oscar numpahin cat bukan karena dia punya jiwa perusak warisan leluhur. Oscar cuma anak usia empat tahun yang fitrah rasa ingin tahunya lagi meluap-luap. Tangannya belum cukup terampil mengontrol botol cat, matanya terpesona melihat cairan biru kental itu menyebar di serat kain. Yang rusak cuma karpetnya, bukan jiwa Oscar.

Kadang aku berpikir, seandainya dulu orang tua kita atau orang-orang dewasa di masa kecil kita paham konsep fitrah ini, mungkin kita nggak akan tumbuh dengan rasa takut salah yang berlebihan ya, Sari. Dulu waktu kecil, kalau aku berbuat salah atau bikin adik tiriku nangis, rasanya dunia langsung kiamat karena aku dicap anak pembawa masalah. Butuh waktu lama, dan kehadiran ruang aman yang tenang seperti rumah tanggaku bareng Yusuf sekarang, buat benar-benar sadar bahwa manusia pada dasarnya diciptakan Allah dengan pondasi yang baik.


Menghubungkan Fitrah dengan Proyek Kreatif Anak di Bintaro

Zaman sekarang, kita memang sudah ada di era pasca-modern. Banyak undang-undang hak anak, buku parenting berjejer di toko buku. Tapi anehnya, Islam sering banget diserang dan dituduh diskriminatif terhadap anak dan perempuan oleh sebagian kalangan Barat. Padahal, sejarah membuktikan Islam-lah yang pertama kali memuliakan hak hidup anak perempuan saat bangsa lain menguburnya hidup-hidup. Islam-lah yang pertama kali mendeklarasikan bahwa anak adalah jiwa merdeka yang suci, bukan properti milik bapaknya.

Sekarang aku mau tarik konsep teologis ini ke dunia nyata kamu di Bintaro.

Sari kan sering banget bikin kelas proyek kreatif online pas liburan sekolah, ada nulis cerita, coding, desain Canva, sampai bikin dunia di Minecraft. Pesertanya anak-anak SD sampai SMA yang duduk di depan layar laptop mereka berjam-jam.

Sering kali, orang tua mendaftarkan anak ke kelas teknologi dengan kacamata cemas: “Aduh Bu Sari, tolong anak saya diajarin coding biar nggak main game terus, anak saya kecanduan gadget, tolong dijinakkan.”

Kacamata itu sebenarnya mirip pandangan dosa asal tadi. Anak dianggap punya kecenderungan merusak lewat gadget, jadi harus “diperbaiki”.

Tapi bagaimana kalau kamu memandang peserta kelas liburan itu dengan kacamata fitrah?

  • Keinginan mereka main Minecraft sebenarnya adalah fitrah eksplorasi ruang dan fitrah menciptakan karya.
  • Keasyikan mereka main warna di Canva adalah fitrah mencintai keindahan (jamal).
  • Ketertarikan mereka pada logika coding adalah fitrah mencari keteraturan dan berpikir sistematis yang Allah tanamkan di akal mereka.

Tindakan Praktis untuk Kelas Kreatifmu

Sari, buat kelas liburan sekolah berikutnya, aku mau titip satu tindakan praktis yang bisa kamu coba masukkan ke dalam materi atau cara komunikasi kamu ke orang tua dan anak-anak:

Coba buat satu sesi refleksi fitrah di awal modul proyek kreatif.

Bukan pakai bahasa psikologi yang berat, tapi bahasa anak-anak yang santai. Di hari pertama kelas coding atau writing, ajak anak-anak menjawab pertanyaan sederhana ini:

“Alat digital ini (laptop, Canva, Minecraft) bukan mainan untuk buang waktu, tapi kanvas buat mengeluarkan kebaikan yang udah ada di dalam kepalamu. Kebaikan apa yang mau kamu bagikan ke orang lain lewat karyamu minggu ini?”

Ketika kita mendefinisikan teknologi sebagai sarana menyalurkan fitrah kebaikan, bukan alat yang bikin mereka merasa bersalah karena suka menatap layar, energi belajarnya pasti beda banget. Anak-anak nggak merasa sedang direhabilitasi dari kecanduan gawai, tapi mereka merasa diakui sebagai pencipta karya yang berharga.

Menurut Sari, kalau kurikulum kelas kreatifmu mulai dibranding dengan pendekatan “merawat fitrah cipta anak” seperti ini, kira-kira orang tua murid di Bintaro bakal lebih tergerak nggak ya buat daftar?

Aku mau siap-siap dulu ya, Sari. Yusuf baru pulang dari kantor IT-nya, dan sebentar lagi kelas malam psikologiku mau mulai via Zoom. Semoga catatan kecil dari Selandia Baru ini ada manfaatnya buat proyek-proyek buku dan kelas kreatifmu.

Salam hangat buat anak-anak di rumah.

Dari Ana


💬 Diskusi

Mau ikut nimbrung atau menjawab pertanyaan di atas? Login pakai akun GitHub untuk meninggalkan komentar.


← Semua tulisan