Aku kira aku sudah tahu apa itu anak kecil. Ternyata jawaban pertanyaan itu berubah dari zaman ke zaman.
Sari, malam ini di luar dingin banget. Angin Selandia Baru lagi hobi bikin jendela kamar gemeretak pelan. Di sebelahku, Yusuf masih fokus di depan laptopnya, berkutat sama tumpukan baris kode sambil sesekali nyodorin cangkir teh hangat ke mejaku. Suasana tenang kayak gini selalu bikin aku pengen buru-buru buka catatan kuliah, lalu cerita banyak hal ke kamu.
Hari ini mata kuliah Psikologi Anak resmi dimulai. Sejak minggu lalu sebetulnya aku sudah penasaran banget sama dosen pengampu mata kuliah ini. Begitu beliau masuk ke ruangan, suasananya langsung terasa beda. Beliau seorang mualaf, kerudungnya rapi dan pembawaannya sangat anggun.
Tapi jangan salah, Sari, isi kepalanya luar biasa tajam. Latar belakang akademiknya di bidang ilmu kognitif dan neurosains, dan sekarang beliau sedang merampungkan riset doktoral di bidang yang sama. Keren banget, kan? Seorang ilmuwan otak yang memilih tunduk pada wahyu.
Tadi sempat ada drama kecil di kelas. Ada satu mahasiswa yang nyeletuk dengan nada agak sinis, bertanya kenapa mahasiswa pascasarjana masih harus diajak membahas Al-Qur’an dan Sunnah, padahal ini kan jurusan psikologi modern dengan pendekatan sains eksperimental.
Beliau cuma tersenyum tenang, khas orang yang ilmunya sudah matang. Beliau nggak terpancing sama sekali. Dengan bahasa Inggris yang lembut, beliau ngejelasin hal yang bikin aku langsung teringat kamu dan anak-anak di rumah.
Kata beliau, pendekatan kuliah ini memang sengaja dibalik. Kita belajar Al-Qur’an dan Sunnah dulu, baru kemudian kita pakai kacamata itu buat mengkritik teori psikologi Barat. Kenapa begitu? Karena sadar atau nggak, hampir semua gagasan kita hari ini tentang masa kanak-kanak itu asalnya dari budaya Barat modern, bukan dari Islam. Kalau kita nggak punya fondasi wahyu, kita bakal gampang menelan mentah-mentah semua teori, padahal belum tentu cocok dengan fitrah manusia yang sesungguhnya. Tugas kita adalah memilah dengan jernih: mana yang sejalan dan bisa kita ambil, mana yang harus kita tolak atau kritisi.
Aku langsung terdiam di kursiku. Mengingat masa kecilku sendiri yang berantakan, aku jadi paham kenapa dulu banyak orang dewasa di sekitarku keliru memperlakukan anak kecil. Mereka cuma meniru apa yang mereka lihat di luar, tanpa pegangan yang kokoh.
Enam Anak Tangga Belajar: Kita Lagi di Sebelah Mana?
Beliau lalu membagikan silabus dan menjelaskan kalau belajar psikologi itu mirip seperti menaiki tangga. Ada enam tingkat pembelajaran yang harus kita lalui pelan-pelan. Dia pakai bahasa yang sederhana banget, jadi biar gampang, aku rangkum begini ya, Sari:
- Pengetahuan: Ini tangga paling bawah. Levelnya cuma sekadar hafal nama konsep atau istilah. Misalnya, kita hafal definisi memori jangka pendek.
- Pemahaman: Di sini kita sudah bisa menjelaskan konsep tadi pakai bahasa kita sendiri. Bukan cuma mengulang kata-kata di buku teks.
- Penerapan: Kita mulai bisa memakai teori itu ke situasi nyata. Misalnya, pas melihat anak ngambek di toko mainan, kita tahu cara meresponsnya berdasarkan apa yang kita pelajari.
- Analisis: Kita mulai memecah konsep dan membandingkannya. Misalnya, membandingkan cara pandang dua tokoh psikologi yang beda pendapat.
- Sintesis: Kita bisa menggabungkan beberapa pengetahuan yang berserakan menjadi satu ide baru yang utuh dan segar.
- Evaluasi: Ini tangga paling atas. Kita punya kemampuan buat menilai: apakah teori ini kuat? Di mana letak kelemahannya? Mana yang lebih adil dan manusiawi?
Beliau sempat bercanda sambil tersenyum simpul, ujian akhir mata kuliah ini nanti bentuknya cuma pertanyaan tertutup seperti pilihan ganda, yang artinya cuma menguji level tangga terbawah. Tapi, tugas-tugas mingguan dan diskusi kelasnya dirancang buat memaksa kita manjat sampai ke tangga analisis dan evaluasi. Rasanya menantang sekaligus bikin deg-degan.
Drama di Kelas Pagi dan Pertanyaan: Siapa Sebenarnya ‘Anak Kecil’ Itu?
Tadi pagi sebelum berangkat kuliah, aku kerja shift pagi di TK tempat aku ngajar. Ada kejadian kecil yang bikin aku mikir seharian. Salah satu anak asuhku, namanya Liam, nggak sengaja numpahin semangkuk penuh cat warna air ke karpet ruang tengah. Rekan kerjaku, seorang guru lokal, langsung mendatangi Liam sambil ngomong dengan nada yang menurutku terlalu dingin dan menuntut pertanggungjawaban seperti ke orang dewasa. Liam cuma mematung, bingung dan ketakutan.
Waktu beliau membuka kuliah dengan pertanyaan sederhana: “Apa itu anak?”, kejadian tadi pagi langsung berputar di kepalaku. Kelihatannya sepele ya, Sari? Semua orang tahu apa itu anak kecil. Tapi ternyata, jawaban atas pertanyaan itu beda-beda tergantung di zaman dan budaya mana kita hidup. Beliau mengajak kita membedah empat kebudayaan besar sebelum kita melihat Islam:
- Arab Pra-Islam (Zaman Jahiliyah): Di zaman ini, anak sering dipandang sebagai beban ekonomi atau simbol gengsi suku. Anak perempuan bahkan dianggap aib keluarga sampai ada tradisi mengubur mereka hidup-hidup. Anak nggak punya nilai intrinsik sebagai manusia yang mulia.
- Romawi Kuno: Budaya yang jadi akar peradaban Barat ini punya konsep kekuasaan mutlak seorang ayah (patria potestas). Di mata hukum mereka, anak adalah kepemilikan orang tua seutuhnya. Kalau seorang ayah mau menjual anaknya jadi budak, membuangnya, atau bahkan membunuhnya, hukum mengizinkan itu.
- Abad Pertengahan di Eropa: Di era ini, anak dipandang sebagai orang dewasa versi mini. Mereka nggak dianggap punya fase perkembangan yang khas. Dari segi teologis saat itu, anak lahir membawa noda dosa asal yang harus ditundukkan lewat kedisiplinan yang sangat keras.
- Dunia Post-Modern (Zaman Kita Sekarang): Nah, ini kebalikannya. Anak sekarang sering diagung-agungkan secara berlebihan. Ada budaya yang membebaskan anak tanpa batas sampai anak kehilangan arah, atau malah anak dijadikan komoditas digital dan proyek ambisi orang tua di media sosial.
Lalu bagaimana dengan Islam? Islam datang meruntuhkan semua konsep zalim itu. Dalam pandangan Islam, anak bukan barang milik orang tua, bukan beban, dan bukan orang dewasa mini yang menanggung dosa. Anak adalah titipan berharga (amanah), makhluk yang suci, dan manusia merdeka yang punya hak-hak yang dilindungi syariat sejak hari pertama dia bernapas. Hubungan orang tua dan anak adalah hubungan pengasuhan yang penuh kasih, keadilan, dan tanggung jawab akhirat.
Membedah Isi Kepala: Dari Sambungan Saraf sampai Urusan Hati
Di paruh kedua kuliah, beliau mulai masuk ke ranah yang lebih teknis tentang apa itu psikologi. Dia membedah jiwa manusia dari beberapa jendela:
Pertama, lewat Ilmu Saraf (Neurosains). Ini bidang keahlian beliau. Neurosains melihat psikologi dari sisi biologis yang sangat nyata: kabel-kabel saraf di otak, sinapsis yang menyala, zat kimia di kepala, dan hasil scan fMRI. Ini adalah garis depan psikologi eksperimental modern. Menarik banget melihat bagaimana setiap kali anak belajar hal baru, ada sambungan fisik di otaknya yang berubah.
Kedua, lewat Psikoanalisis. Aliran ini dipopulerkan oleh Sigmund Freud. Beliau mengingatkan bahwa psikoanalisis sebetulnya tidak berbasis data eksperimental di laboratorium. Banyak teorinya cuma tebakan atau interpretasi pribadi Freud dari pasien-pasien klinisnya. Tapi anehnya, pengaruhnya luar biasa besar ke budaya populer sampai hari ini.
Lalu beliau berhenti sejenak, menatap kami semua, dan berkata kalau kedua sudut pandang Barat tadi punya lubang besar: mereka sering melupakan hakikat spiritual manusia. Di sinilah Terminologi Al-Qur’an masuk melengkapi puzzle yang hilang. Al-Qur’an punya kosakata yang jauh lebih kaya dan presisi saat bicara soal jiwa:
- Fitrah: Cetak biru potensi kebaikan dan ketauhidan yang sudah terpasang rapi di dalam diri setiap anak sejak lahir. Anak bukan kertas kosong (tabula rasa), mereka sudah punya kompas moral dasar dari Allah.
- Nafs: Jiwa atau diri manusia yang dinamis. Di dalamnya ada dorongan keinginan, emosi, dan hawa nafsu yang perlu dilatih dan disucikan perlahan-lahan seiring usia.
- Aql: Akal pikiran, tapi bukan cuma logika matematika di kepala. Dalam konsep Islam, akal itu fungsi pemahaman yang terhubung erat dengan kepekaan hati untuk membedakan yang haq dan yang batil.
- Ruh: Nafas kehidupan yang ditiupkan langsung oleh Allah. Unsur ilahiah yang membuat manusia punya kebutuhan spiritual yang nggak bakal pernah bisa dipuaskan cuma dengan mainan, makanan, atau stimulasi kognitif semata.
Rasanya adem banget mendengar seorang neurosaintis menjabarkan konsep fitrah dan ruh dengan penuh rasa hormat. Kesimpulan hari ini jelas sekali: psikologi anak dalam Islam itu bukan anti-sains, tapi kita menggunakan landasan Al-Qur’an dan Sunnah untuk memfilter, meluruskan, dan melengkapi sains modern.
Catatan Kecil Buat Proyek Kamu di Bintaro
Waktu beliau menjelaskan soal anak bukan kertas kosong dan punya fitrah belajar yang aktif, pikiranku langsung terbang ke kelas-kelas kreatif yang sering kamu bikin di Bintaro pas liburan sekolah. Kamu kan sering ngajak anak-anak bikin proyek nulis cerita, coding sederhana, atau bikin desain di Canva.
Seringkali, sistem pendidikan modern memperlakukan anak seolah-olah kepala mereka itu ember kosong yang harus diisi penuh sama instruktur. Kita yang merasa paling tahu apa yang harus mereka bikin.
Nah, kalau melihat konsep fitrah dan aql yang kita bahas tadi, aku punya satu pertanyaan praktis buat kamu:
Di modul kelas liburan kamu berikutnya, kira-kira bagian mana dari instruksi belajarmu yang bisa dikurangi ruang kontrolnya, supaya anak-anak nggak cuma meniru contoh dari kamu, tapi benar-benar diberi ruang buat menyalakan aql dan menuangkan fitrah rasa ingin tahu mereka sendiri ke dalam karyanya?
Yusuf barusan nutup laptopnya dan ngingetin aku kalau jam dinding dapur sudah hampir tengah malam. Besok pagi aku harus kembali ke TK, ketemu Liam dan teman-temannya lagi dengan kacamata baru yang lebih welas asih.
Semoga catatan kecil ini ada manfaatnya ya buat menemani malam kamu di seberang sana.
Dari Ana
💬 Diskusi
Mau ikut nimbrung atau menjawab pertanyaan di atas? Login pakai akun GitHub untuk meninggalkan komentar.