Jurnal Ana: Kacamata Kuda, Gambar Tangga, dan Kenapa Kita Nggak Cuma Daging Berjalan

Collab Journal · 13 October 2026

Tapi gimana kalau Leo tadi bukan cuma perlu hukuman?

Sari, di luar jendela flat kami lagi hujan gerimis. Angin Selandia Baru kalau lagi musim dingin begini rasanya menusuk sampai ke tulang. Dari tadi sore Yusuf sibuk utak-atik laptopnya di meja seberang, ada deadline sistem kantornya yang belum beres. Tapi dia masih sempat bikin cokelat hangat buat aku sebelum kelas malamku mulai. Rasanya bersyukur sekali punya sudut tenang ini setelah seharian tadi kepala rasanya mau meledak.

Aku mau cerita, Sari. Tadi pagi di TK tempat aku kerja ada kejadian kecil yang bikin aku kepikiran seharian. Kejadian ini nyambung banget sama materi kuliah pengantar psikologi yang baru aku pelajari bareng dosenku tadi malam. Karena kita udah janji mau saling tukar catatan belajar, aku mau tumpahkan semuanya di sini ya. Anggap aja ini caraku mencerna materi sambil ngobrol santai sama kamu.


Drama Balok Kayu Jam 10 Pagi

Jadi begini ceritanya. Jam sepuluh pagi tadi, ada murid laki-laki umur empat tahun, katakanlah namanya Leo. Leo ini tiba-tiba melempar balok kayu mainannya sampai kena siku anak lain. Anak itu nangis, Leo juga nangis, terus nangislah satu kelas.

Rekan kerjaku, sebut saja Miss Claire, langsung bereaksi cepat. Dia pakai pendekatan yang sangat textbook gaya behavioristik modern. Leo langsung dipisahkan, dikasih time-out, lalu stiker bintang di papan perilakunya dicopot satu. Buat Miss Claire, masalahnya sederhana: ada stimulus, ada respons, ada hukuman biar perilakunya nggak berulang. Beres.

Tapi pas aku dekati Leo setelah tangisnya reda, aku duduk bersila dan memandang sejajar matanya. Ternyata ceritanya nggak sesederhana itu. Leo itu nggak berniat jahat atau nakal. Dia cuma frustrasi karena kemarin ayahnya nggak pulang ke rumah, ibunya kerja lembur, dan menara balok yang dia bangun seharian kesenggol dikit sama temannya terus roboh. Hatinya lagi sempit banget, Sari. Dia nggak punya kata-kata buat bilang kalau dia lagi cemas dan kangen orang tuanya. Balok itu cuma luapan dari sesuatu yang jauh lebih dalam di dalam dadanya.

Waktu aku duduk di kelas malam beberapa jam setelahnya, dosenku membuka kuliah dengan satu kata sederhana: perspektif. Dan detik itu juga, aku langsung teringat tatapan mata Leo.


Jadi, Apa Sih Sebenarnya “Perspektif” Itu?

Sari, kamu pasti lebih jago dari aku soal visual karena kamu sering bikin proyek kreatif bareng anak-anak. Tapi kata dosenku, asal-usul kata perspective dalam bahasa Inggris itu sebenarnya dari seni rupa.

Bayangin kamu lagi menggambar tangga di selembar kertas gambar yang datar. Kertas itu kan dua dimensi, cuma ada panjang dan lebar. Tapi dengan teknik tertentu, tangga itu bisa kelihatan hidup, punya kedalaman, dan seolah-olah punya ruang tiga dimensi. Lucunya, tangga yang sama bisa kelihatan mengarah naik atau mengarah turun, tergantung dari sudut mana mata kita memandangnya.

Nah, di dalam psikologi, perspektif itu artinya kacamata atau cara pandang kita terhadap manusia. Manusia itu obyek yang sama, tapi kalau kacamata yang kita pakai beda warnanya, hasil yang kita lihat bakal beda total.

Ada dua pasangan kacamata besar yang bakal selalu kita bandingkan di perkuliahan ini:

  1. Psikologi Teoritis vs Psikologi Terapan
  2. Psikologi Sekuler vs Psikologi Islam

Biar gampang, kita bedah satu per satu pelan-pelan ya.


Teori di Atas Kertas vs Realitas di Lantai Kelas

Pasangan pertama ini gampang banget dibayangkan.

Psikologi Teoritis itu kerjanya mirip orang berfilsafat. Mereka duduk di ruangan yang tenang, memikirkan konsep-konsep abstrak tentang pikiran manusia. Mereka mengandalkan logika, rasio, dan perenungan. Istilah kerennya philosophy of mind atau filsafat pikiran. Mereka bertanya hal-hal besar seperti: Apa itu kesadaran? Kenapa manusia bisa punya rasa bersalah? Bagaimana memori terbentuk?

Sementara Psikologi Terapan itu kebalikannya. Mereka nggak mau cuma berhenti di teori. Mereka turun ke lapangan, mengumpulkan data eksperimen, dan mencari cara supaya teori itu berguna buat kehidupan nyata. Bidangnya macam-macam banget:

  • Ada yang masuk ke klinik terapi buat bantu orang yang trauma
  • Ada yang masuk ke dunia pendidikan buat cari cara mengajar anak yang efektif
  • Ada juga yang masuk ke dunia industri dan organisasi buat bikin suasana kantor jadi lebih sehat

Contoh gampangnya ya kejadian Leo tadi pagi. Teori tentang regulasi emosi itu psikologi teoritis. Tapi waktu aku harus memutuskan cara menenangkan Leo tanpa bikin mentalnya makin hancur di tengah kelas yang rusuh, itu namanya psikologi terapan.

Tapi Sari, ada perbedaan kacamata lain yang jauh lebih bikin aku merenung waktu mendengarnya di kelas tadi malam. Yaitu perbedaan antara psikologi sekuler dan psikologi Islam.


Bukan Barat Lawan Islam, Tapi Soal Cara Memandang Manusia

Sering kali orang salah paham, dikiranya psikologi Islam itu cuma psikologi Barat yang ditempeli ayat-ayat suci sebagai pemanis. Padahal bukan begitu sama sekali.

Dosenku di sini orang kulit putih, tapi beliau seorang Muslim yang sangat santun. Beliau menegaskan dari awal: ini bukan soal Barat lawan Timur secara geografis. Ini murni soal bagaimana kita memandang hakikat seorang manusia.

Coba kita lihat sejarahnya sebentar:

Psikologi Barat atau sekuler itu sebenarnya mengalami penyempitan yang panjang. Awalnya dulu mereka bicara tentang psyche alias jiwa. Tapi karena mereka ingin ilmu ini dianggap ilmiah setara ilmu fisika dan biologi, hal-hal yang berbau gaib atau agama pelan-pelan dibuang. Dari membahas jiwa, mereka menyempit cuma membahas pikiran (mind). Lalu pikiran dianggap terlalu abstrak, menyempit lagi cuma membahas perilaku yang bisa dilihat mata (behavior). Ujung-ujungnya, manusia cuma dipandang sebagai kumpulan daging, kabel saraf di otak, dan hasil adaptasi evolusi belaka.

Sedangkan Psikologi Islam itu bukan barang baru kemarin sore. Ini ilmu warisan para ulama dan fuqaha dari abad-abad pertama Islam yang sekarang sedang coba dihidupkan kembali secara terstruktur.

Dalam kacamata Islam, manusia itu nggak sesempit kabel saraf dan reaksi hewani. Manusia itu punya:

  • Fitrah: rancangan asal yang suci dan condong pada kebaikan sejak lahir
  • Ruh: tiupan Ilahi yang bikin kita selalu rindu pada hal-hal transenden
  • Qalb: hati yang bisa bolak-balik, tempat memahami kebenaran
  • Nafs: jiwa atau diri yang punya dorongan-dorongan dinamis, bisa condong ke buruk tapi bisa juga disucikan

Bayangin betapa jauh bedanya, Sari.

Kalau kita cuma pakai psikologi sekuler evolusioner, kita melihat anak kecil yang egois cuma sebagai mamalia kecil yang lagi bertahan hidup (survival instinct). Tapi kalau pakai psikologi Islam, kita melihat anak itu lahir membawa fitrah kebaikan. Kalau dia berbuat salah, bukan berarti rancangan asalnya rusak, tapi nafs-nya sedang butuh diarahkan dan hatinya sedang butuh dipeluk.

Di kuliah ini nanti kami bakal menjelajahi banyak alat modern yang canggih, mulai dari wawancara, alat rekam gelombang otak seperti EEG, sampai pemindaian otak seperti fMRI. Kita juga bakal belajar sistem saraf, bahasa, memori, sampai gangguan kejiwaan. Tapi dosenku berpesan satu hal yang nempel banget di hatiku: Teknologi dan sains modern itu alat bantu membaca fenomena fisik, tapi peta jiwanya tetap harus berakar pada pemahaman siapa Pencipta manusia itu sendiri.


Catatan Kecil Buat Kelas Kreatif Kamu

Sepanjang dosenku menerangkan soal fitrah dan perspektif tadi, entah kenapa bayanganku malah lari ke kamu di Bintaro.

Aku ingat cerita kamu tempo hari waktu anak-anak kelas coding dan menulis proyek liburanmu ada yang tiba-tiba mogok kerja, atau ada yang rewel waktu diminta bikin presentasi Canva. Kadang sebagai pengajar atau fasilitator, kita gampang banget terjebak pakai kacamata sekuler yang mekanistik: anak ini malas, anak ini nggak disiplin, target proyek hari ini gagal tercapai.

Padahal kalau kita ubah sudut pandang kita memakai kacamata psikologi Islam, anak-anak yang datang ke kelasmu itu kan titipan yang punya qalb dan nafs yang unik. Mereka bukan mesin pembuat karya.

Mumpung kamu lagi siap-siap buat bikin kelas proyek kreatif liburan sekolah berikutnya, aku mau titip satu pertanyaan kecil buat kamu renungkan:

Kalau di kelas menulis atau coding kamu nanti ada satu anak yang paling pasif atau tiba-tiba rewel di tengah sesi, bagaimana caramu melihat perilakunya bukan sebagai gangguan terhadap alur kelas, melainkan sebagai tanda bahwa fitrah atau hatinya sedang butuh disapa dengan pendekatan yang berbeda? Kira-kira langkah praktis apa yang bisa kamu siapkan di silabus kelasmu buat memberi ruang aman bagi hati mereka sebelum jari mereka mulai mengetik kode?

Tehku sudah hampir dingin, Sari, dan Yusuf sudah mulai melirik sambil senyum kecil, tanda kalau aku harus segera bersiap tidur karena besok pagi harus kembali menyapa anak-anak di TK.

Semoga catatan kecil dari seberang lautan ini ada gunanya buat bahan lamunanmu malam ini ya.

Hangat selalu dari Wellington,

Ana


💬 Diskusi

Mau ikut nimbrung atau menjawab pertanyaan di atas? Login pakai akun GitHub untuk meninggalkan komentar.


← Semua tulisan