Jurnal Ana: Kenapa Anak Empat Tahun Nggak Perlu Buru-Buru Bisa Membaca dan Berhitung

Collab Journal · 22 October 2026

Otaknya seperti spons, katanya. Tapi kata dosenku, anak bukan kertas kosong dan bukan juga spons yang wajib dijejali.

Sari, apa kabar di Bintaro? Di sini angin malamnya lagi dingin banget. Yusuf baru aja bikinin aku teh hangat dan sekarang dia lagi sibuk di depan dua monitornya, berkutat sama kode-kode yang jujur aja aku nggak pernah paham.

Melihat dia ngetik cepat begitu, tiba-tiba aku kepikiran kamu dan modul kuliah psikologi perkembangan yang tadi malam dibahas di kelas dosen pengampuku. Seharian ini kepalaku berisik banget, Sari. Campur aduk antara materi kuliah, drama kecil di TK tempat aku ngajar tadi siang, dan obrolan kita minggu lalu soal anak-anak di kelas coding liburan kamu.

Jadi, aku tulis catatan ini sambil curhat sedikit ya. Anggap aja ini caraku mengulang materi biar nggak gampang lupa.


Drama Jam Makan Siang dan Debat Kuno Soal Kertas Kosong

Tadi siang di sekolah ada kejadian yang bikin aku elus dada. Salah satu orang tua murid, sebut saja ibunya Oliver, datang dengan muka tegang pas jam jemput. Usia Oliver itu baru empat tahun, Sari. Dia anak yang ceria, suka banget main balok kayu, dan senang mengamati cacing di kebun sekolah. Tapi ibunya protes ke kepala sekolah karena di TK kami anak-anak belum diajari membaca lancar dan berhitung cepat.

Kata ibunya, “Anak usia segini itu otaknya seperti spons. Kalau nggak dijejali dari sekarang, nanti dia tertinggal sama anak-anak lain.”

Aku yang kebetulan lagi beres-beres krayon di dekat situ cuma bisa tersenyum sopan. Sebagai guru baru, apalagi aku orangnya nggak enakan kalau mau membantah langsung, aku cuma bisa mendengarkan. Tapi di dalam hati, aku langsung teringat materi kuliah minggu ini tentang sejarah psikologi perkembangan.

Ibunya Oliver itu persis banget menganut pandangan John Locke dari abad ke-17. Ingat kan, filsuf Inggris yang terkenal dengan istilah tabula rasa? Locke bilang anak itu lahir seperti kertas putih kosong. Lingkungan luar yang memegang pena untuk menuliskan apa saja di atas kertas itu. Lewat pembiasaan, hukuman, dan hadiah. Kalau menurut cara pandang ini, anak itu pasif banget. Terserah orang dewasa mau mencetak mereka jadi apa.

Tapi ada filsuf lain namanya Jean-Jacques Rousseau. Dia bilang anak itu bukan kertas kosong. Anak itu ibarat tanaman kecil yang bertumbuh sesuai jadwal alaminya sendiri. Di dalam dirinya sudah ada benih dan jadwal biologis yang Allah titipkan.

Dalam Islam, pandangan Rousseau ini rasanya jauh lebih dekat dengan konsep fitrah ya, Sari? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Fitrah itu bukan kertas kosong tanpa warna. Fitrah itu kecenderungan alami untuk mengenali kebaikan, rasa ingin tahu, dan potensi tauhid yang sudah terpasang sejak di alam ruh. Tugas kita sebagai pendidik atau orang tua bukan mencoreti kertas itu dengan ambisi kita sendiri, melainkan menyirami benihnya biar tumbuh mekar sesuai rancangan terbaik-Nya.

Kadang kita terlalu panik ingin anak cepat bisa ini dan itu, padahal akarnya belum cukup kuat menancap ke tanah.


Cerita Suku Aché: Kenapa Menggendong Terus Justru Bikin Anak Ragu Melangkah?

Di kelas tadi malam, ada satu studi kasus yang bikin aku terdiam lama banget. Dosenku bercerita tentang suku Aché di belantara Paraguay. Ini hasil penelitian dari Kaplan dan Dove tahun 1987.

Ibu-ibu di suku Aché punya kebiasaan menggendong bayi mereka hampir sepanjang hari. Kenapa? Karena hutan di sana berbahaya. Banyak duri beracun, serangga, dan binatang buas. Demi keselamatan, anak-anak itu jarang banget diturunkan ke tanah.

Akibatnya apa, Sari? Perkembangan motorik anak-anak Aché jadi jauh lebih lambat dibanding bayi-bayi di dunia barat. Mereka baru bisa berjalan mandiri di usia sekitar 23 sampai 25 bulan. Bayangkan, hampir dua tahun baru bisa jalan! Sementara bayi pada umumnya sudah mulai melangkah di usia satu tahun.

Tapi ini bagian yang paling mengejutkan. Begitu anak-anak suku Aché ini menginjak usia sembilan tahun, kemampuan motorik mereka justru melesat jauh melampaui anak-anak sebayanya di Amerika. Mereka bisa memanjat pohon setinggi delapan meter tanpa alat bantu, lincah melompati akar-akar besar, dan hafal navigasi hutan lebat.

Waktu mendengar cerita itu, aku mendadak teringat masa kecilku sendiri di Bekasi dulu. Waktu almarhumah ibu baru meninggal dan aku harus mengasuh adik tiriku yang masih balita. Karena rasa takut yang berlebihan, takut adikku jatuh, takut dia kotor, takut dinilai gagal menjaga adik, aku sering banget melarang dia ke mana-mana. Mau naik tangga aku larang, mau pegang tanah aku bersihkan cepat-cepat. Aku pikir aku sedang melindunginya. Tapi ternyata, perlindungan yang berlebihan itu sering kali lahir dari kecemasan kita sendiri, bukan dari kebutuhan si anak.

Para ahli psikologi menyebut ini sebagai isu satu jalur atau banyak jalur (one course or many courses). Urutan perkembangan manusia itu memang universal. Semua anak di dunia bakal mengoceh sebelum bisa bicara kata utuh. Tapi jalan yang mereka tempuh bisa beda-beda kecepatannya, tergantung bagaimana budaya dan lingkungan memperlakukan mereka.

Kalau anak selalu kita gendong, selalu kita bantu mengerjakan tugasnya, atau selalu kita selesaikan masalahnya, kita sebenarnya sedang mencuri kesempatan mereka untuk melatih otot kemandiriannya. Iya kan, Sari?


Belajar dari Bandura: Anak Membaca Apa yang Kita Lakukan, Bukan yang Kita Katakan

Selain soal suku Aché, kami juga mengulang eksperimen boneka Bobo yang legendaris dari Albert Bandura. Eksperimen ini simpel tapi menampar banget buat aku.

Anak-anak dimasukkan ke dalam ruangan dan melihat orang dewasa memukuli boneka plastik besar berbentuk badut. Orang dewasa itu meninju, menendang, dan meneriaki bonekanya. Ketika anak-anak itu dibiarkan bermain sendiri di ruangan yang ada boneka tersebut, tebak apa yang terjadi? Mereka meniru persis tindakan agresif itu. Bahkan menambahkan variasi kekerasan lain yang nggak dicontohkan sebelumnya.

Bandura menyebut fenomena ini sebagai determinisme timbal balik (reciprocal determinism). Lingkungan membentuk perilaku kita, tapi kita juga ikut membentuk lingkungan kita. Hubungan antara orang tua dan anak itu bukan jalan satu arah. Itu adalah percakapan tanpa henti.

Aku jadi mikir, di TK tempatku mengajar, ada anak yang kalau temannya pinjam pensil warna langsung merebutnya kembali sambil membentak kasar. Setelah aku perhatikan waktu jam pulang, cara ibunya menegur anak itu saat menumpahkan air minum ternyata persis sama intonasinya. Keras, terburu-buru, dan penuh tuntutan.

Rasanya sering kali kita terlalu sibuk memikirkan materi apa yang harus diajarkan ke anak, sampai lupa kalau kurikulum yang paling cepat mereka serap adalah ekspresi wajah kita saat marah, cara kita merespons kegagalan, dan seberapa sabar kita mendengarkan cerita mereka.


Satu Refleksi Kecil untuk Kelas Kreatif Kamu

Nah, ini bagian yang dari tadi sore ingin aku obrolin sama kamu, Sari.

Aku kan sering melihat update status kamu tentang kelas coding dan proyek kreatif liburan buat anak-anak SD dan SMP yang kamu bikin dari rumah. Aku selalu kagum melihat energi kamu mengurus tiga anak, kuliah lagi, tapi masih sempat membimbing anak-anak bikin gim di Minecraft atau mendesain cerita di Canva.

Menghubungkan materi Erik Erikson tentang tahap usia 6 sampai 12 tahun, krisis utama mereka adalah industry versus inferiority. Di usia ini, anak-anak punya dorongan luar biasa untuk merasa kompeten. Mereka ingin menghasilkan karya yang diakui orang dewasa. Tapi kalau mereka merasa tugasnya terlalu sulit, atau terlalu sering dikoreksi, mereka gampang banget merasa rendah diri (inferior).

Di sisi lain, ada godaan besar bagi mentor atau orang tua untuk langsung turun tangan memperbaiki kode yang error atau mempercantik desain poster mereka biar hasilnya kelihatan bagus di mata orang tua murid. Persis seperti ibu suku Aché yang nggak tega menurunkan anaknya ke tanah.

Jadi, ini pertanyaan kecilku buat bahan evaluasi kelas liburan kamu berikutnya:

Di bagian mana dari alur kelas kreatifmu, kamu bisa dengan sengaja menahan diri untuk tidak langsung memberikan solusi saat anak-anak mengalami error atau kebuntuan teknis, dan menggantinya dengan ruang aman agar mereka bisa merasakan frustrasi kecil selama lima belas menit saja sebelum mereka menemukan jawabannya sendiri?

Aku penasaran banget bagaimana seorang programmer sekaligus ibu seperti kamu menerapkan teori ini di dunia nyata.

Yusuf barusan nutup laptopnya dan mengingatkan aku kalau jam tidur sudah lewat. Besok pagi anak-anak di TK sudah menunggu dengan tumpukan balok kayunya.

Semoga harimu di Bintaro menyenangkan ya, Sari. Sampaikan salam hangatku untuk anak-anak di rumah.

Peluk hangat dari jauh,

Ana


💬 Diskusi

Mau ikut nimbrung atau menjawab pertanyaan di atas? Login pakai akun GitHub untuk meninggalkan komentar.


← Semua tulisan