Ternyata yang dicari anak saat menangis bukan jajan, tapi satu orang dewasa yang berhenti sebentar dan menatap matanya.
Sari, tadi pagi di tempat penitipan dan TK tempatku kerja, ada drama kecil yang bikin dadaku agak sesak.
Ada anak laki-laki umur empat tahun, namanya Rafi. Ibunya buru-buru mau berangkat ke kantor distrik. Rafi menangis kencang sambil memegang ujung mantel ibunya erat sekali. Alih-alih jongkok dan menatap mata Rafi, ibunya malah mengeluarkan sekotak biskuit mahal dan susu stroberi dari tas, lalu menyerahkannya ke tangan Rafi sambil berkata, “Kan Mama sudah kasih jajan enak. Jangan cengeng, dong.” Habis itu, ibunya langsung melangkah pergi begitu saja.
Rafi melempar kotak biskuit itu ke lantai. Dia tidak mau makanannya. Dia cuma mau ibunya menoleh sebentar saja dan memeluknya.
Melihat pemandangan itu, aku langsung teringat materi kuliah psikologi perkembangan yang baru kubaca semalam di kampus. Soal attachment alias kelekatan. Dosenku sempat bilang satu kalimat yang ngena banget di kepala: anak kecil itu tidak butuh orang tua yang sempurna, mereka cuma butuh orang tua yang hadir dan nyambung.
Kira-kira apa yang sebenarnya dicari anak-anak saat mereka menangis? Kenapa makanan, mainan, atau fasilitas serba ada sering kali gagal menenangkan hati mereka?
Monyet Kawat dan Ilusi Bahwa Bayi Cuma Butuh Makan
Dulu banget, sekitar tahun 1950-an, para ahli psikologi sempat salah sangka, Sari. Mereka mengira bayi menempel ke ibunya murni karena urusan perut. Teori lama bilang: ibu memberi susu, bayi merasa kenyang, jadi bayi suka pada ibu karena ada makanan. Sederhana banget kan logikanya?
Tapi ada seorang peneliti bernama Harry Harlow yang penasaran. Dia membuat eksperimen yang cukup terkenal tapi juga bikin sedih kalau dibayangkan.
Harlow memisahkan bayi-bayi monyet dari induk aslinya, lalu memasukkan mereka ke kandang dengan dua boneka “ibu pengganti”:
- Ibu pertama dibuat dari kawat besi yang dingin, tapi dipasangi botol susu.
- Ibu kedua dibuat dari kawat yang dibalut kain handuk lembut (terry cloth), hangat dan empuk, tapi tidak ada susunya sama sekali.
Coba tebak apa yang terjadi? Bayi monyet itu cuma mendatangi ibu kawat sebentar saat mereka benar-benar lapar untuk menyusu. Begitu selesai minum, mereka langsung lari dan menghabiskan belasan jam waktunya untuk memeluk ibu kain yang empuk.
Bahkan saat Harlow menakut-nakuti mereka dengan boneka monster mekanik, bayi-bayi monyet itu tidak lari ke ibu kawat yang memberi mereka makan. Mereka lari ketakutan ke ibu kain handuk, memeluknya erat-erat sampai detak jantung mereka tenang kembali.
Istilah kerennya adalah contact comfort atau kenyamanan dari kontak fisik yang hangat. Bayi, baik monyet maupun manusia, butuh rasa aman jauh melebihi kebutuhan fisik mereka akan makanan.
Di sinilah John Bowlby, bapak teori kelekatan, mulai merumuskan teorinya. Kata Bowlby, kelekatan itu bukan sekadar perilaku yang dipelajari karena diberi makan. Kelekatan adalah sistem biologis bawaan lahir yang memang dirancang Tuhan untuk menjaga kita tetap hidup.
Dan yang paling bikin aku merenung: kelekatan paling kuat itu bukan otomatis terbentuk dengan orang yang paling sering berada di dekat anak, apalagi yang cuma rajin menyuapi. Kelekatan terbentuk dengan orang yang merespons sinyal anak secara akurat.
Empat Gaya Menghadapi Rasa Takut (Strange Situation)
Waktu bayi menangis, itu adalah sinyal. Bayi tidak bisa bilang, “Ibu, aku takut suara petir,” atau “Mama, aku merasa kesepian di ruangan gelap ini.” Yang bisa mereka lakukan cuma menjerit dan menangis.
Lalu muridnya Bowlby, namanya Mary Ainsworth, menguji hal ini lewat eksperimen terkenal bernama Strange Situation. Dia mengamati reaksi anak-anak balita saat ditinggal sebentar oleh ibunya di ruangan asing bersama orang asing, lalu melihat apa yang terjadi saat ibunya kembali masuk ke ruangan.
Dari eksperimen itu, Ainsworth membagi respons anak ke dalam beberapa gaya kelekatan:
Kelekatan Aman (Secure Attachment) Ini kondisi yang paling sehat. Waktu ibu pergi, anaknya memang sedih atau menangis. Wajar kan ya? Tapi begitu ibunya kembali, dia menyambut dengan gembira, mencari pelukan, merasa tenang dengan cepat, lalu berani main lagi. Anak tahu ibunya bisa diandalkan. Ibu adalah pangkalan amannya (secure base) untuk menjelajahi dunia.
Kelekatan Cemas Menghindar (Insecure-Avoidant Attachment) Anak tipe ini terlihat mandiri banget dari luar, sampai sering dipuji orang dewasa. Waktu ibunya pergi, dia tidak menangis. Waktu ibunya kembali, dia pura-pura cuek dan sibuk sendiri. Tapi saat detak jantungnya diukur, ternyata stresnya tinggi sekali. Kenapa dia bersikap begitu? Karena dia sudah kapok. Di rumah, setiap kali dia menangis atau minta tolong, orang tuanya mungkin mengabaikan, memarahi, atau menganggapnya lemah. Akhirnya anak belajar: lebih baik aku tidak berharap pada siapa pun.
Kelekatan Cemas Ambivalen (Insecure-Ambivalent Attachment) Tipe ini biasanya super cemas. Saat ditinggal, dia histeris luar biasa. Tapi anehnya, waktu ibunya kembali dan memeluknya, dia malah marah, memukul, atau menolak ditenangkan, tapi di saat bersamaan tidak mau dilepas. Ini biasanya terjadi kalau orang tuanya tidak konsisten. Kadang disayang-sayang secara berlebihan, tapi kadang dibentak atau dicuekin saat orang tua lagi stres. Anaknya jadi bingung dan selalu was-was.
Kelekatan Tidak Terorganisir (Disorganized Attachment) Ini tipe tambahan dari Main dan Solomon. Perilaku anaknya tampak bingung dan linglung. Mereka mendekati orang tua tapi sambil membuang muka, atau tiba-tiba membeku di lantai. Biasanya ini dialami anak yang orang tuanya menjadi sumber ketakutan sekaligus sumber perlindungan, misalnya ada kekerasan di rumah. Rumah yang harusnya jadi tempat berteduh malah jadi tempat badai.
Membaca teori ini membuatku menatap diriku sendiri cukup lama. Di masa lalu, saat rumah terasa begitu sepi dan aku harus cepat-cepat belajar mengurus adik kecil tanpa sosok ibu, aku sempat tumbuh menjadi orang yang serba menahan diri. Aku selalu takut merepotkan orang lain dan terbiasa menelan perasaan sendiri.
Untungnya, Allah mempertemukanku dengan Yusuf. Sifatnya yang tenang dan selalu mendengarkan tanpa menghakimi pelan-pelan mengajariku bahwa meminta bantuan itu bukan tanda kelemahan. Memiliki pasangan yang konsisten rasanya seperti menemukan tanah yang kokoh untuk berpijak setelah sekian lama mengapung di air.
Rahmah: Mengapa Kasih Sayang Tidak Pernah Merusak Anak
Di masyarakat kita, masih sering ada anggapan kolot ya, Sari. Katanya kalau anak bayi menangis jangan langsung digendong, nanti bau tangan. Nanti gedenya manja, nanti tidak mandiri.
Padahal kalau kita lihat dari kacamata psikologi Islam dan sirah nabawiyah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sosok yang sangat responsif terhadap sinyal emosi anak kecil. Beliau sering sekali mencium cucu-cucunya, memeluk mereka di depan umum, sampai-sampai ada seorang sahabat badui yang heran dan berkata dia punya sepuluh anak tapi tidak pernah sekalipun mencium mereka.
Rasulullah dengan tegas menjawab bahwa siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi. Allah mencabut rasa kasih sayang itu dari hati orang yang keras.
Bahkan ketika salat berjamaah, saat beliau mendengar ada bayi menangis di barisan belakang, beliau mempercepat salatnya karena tahu betapa cemasnya hati ibu dari bayi tersebut. Beliau tidak menyuruh bayinya disumpal makanan atau dimarahi. Beliau peka pada sinyal kecemasan.
Secara fitrah, kelekatan awal ini akan membentuk apa yang disebut Bowlby sebagai Internal Working Model (IWM). Ini semacam kacamata atau cetak biru di dalam kepala anak tentang bagaimana dunia bekerja.
Kalau anak tumbuh dengan pengasuh yang hangat dan responsif, IWM-nya akan berbunyi: “Aku berharga, orang lain bisa dipercaya, dan dunia ini tempat yang aman untuk dijelajahi.”
Tapi kalau sinyalnya selalu ditolak, IWM-nya akan berubah menjadi: “Aku tidak diinginkan, orang lain akan mengecewakanku, dan aku harus menanggung semuanya sendirian.” Kacamata inilah yang bakal dibawa sampai dewasa, bahkan mempengaruhi cara memilih pasangan, cara bekerja, sampai risiko perceraian seperti yang ditemukan dalam riset Hazan dan Shaver.
Hubungan Aman untuk Ruang Belajar Anak-Anak
Nah, Sari, waktu memikirkan konsep secure base ini, pikiranku langsung melayang ke proyek-proyek kelas kreatif yang kamu jalankan dari Bintaro. Kamu kan sering bikin kelas online nulis cerita, coding, canva, sampai minecraft buat anak-anak sekolah pas liburan.
Tahu tidak, anak-anak yang ikut kelas coding atau bikin proyek kreatif itu sebenarnya sedang berada dalam situasi yang rentan lho secara emosi.
Saat mereka belajar coding misalnya, ada error atau bug yang bikin kodenya tidak jalan. Atau saat mereka disuruh menulis cerita pendek dan layarnya masih kosong melompong. Buat anak usia SD atau SMP, kondisi buntu seperti itu memicu kecemasan kecil. Di otak mereka, muncul alarm: “Aku bodoh nggak ya? Nanti ditertawakan teman-teman nggak ya?”
Kalau mentor atau gurunya merespons dengan dingin, misalnya cuma bilang, “Makanya baca modulnya lagi, jangan malas,” anak-anak yang punya gaya kelekatan cemas atau menghindar bakal langsung menutup diri. Mereka mungkin matikan kamera Zoom, mogok mencoba, atau pura-pura internetnya putus.
Sebaliknya, kalau kamu berhasil memposisikan dirimu dan mentor-mentormu sebagai pangkalan aman (secure base), anak-anak itu bakal berani bereksplorasi liar tanpa takut gagal. Mereka tahu kalau layarnya merah dan penuh pesan error, ada tempat pulang yang ramah untuk bertanya tanpa dihakimi.
Coba deh sesekali kamu evaluasi alur komunikasi di kelas-kelas liburanmu besok:
Bagaimana cara mentormu merespons saat ada anak yang tiba-tiba pasif atau mengeluh “kak, aku nggak bisa!” di kolom chat? Apakah mereka langsung diberi solusi teknis yang kaku, atau ditenangkan dulu rasa frustrasinya?
Mungkin kamu bisa bikin satu sesi singkat di awal kelas khusus untuk menyepakati bahwa ruang kelas ini adalah safe space. Boleh salah berkali-kali, boleh tanya hal yang paling sepele, dan tombol bantuan selalu terbuka kapan saja tanpa ada yang boleh mencela.
Aku penasaran, dari anak-anak yang selama ini ikut kelas proyek kreatifmu, kamu pernah tidak melihat pola anak yang gampang menyerah karena takut salah dibanding anak yang berani utak-atik kodenya sendiri?
Salam hangat dari meja belajarku yang dingin,
Ana
💬 Diskusi
Mau ikut nimbrung atau menjawab pertanyaan di atas? Login pakai akun GitHub untuk meninggalkan komentar.