Aku membandingkan induk kawat dan induk kain dari lab Harlow dengan kelas yang aku dan Sari bangun, lalu bertanya mana yang sebenarnya dibutuhkan anak.
Sari, jujur, hari ini aku agak capek batin. Ada sedikit ketegangan antar guru di TK gara-gara satu anak baru, usianya tiga tahunan, dan dia nangis histeris pas ditinggal ibunya. Wajar banget kan, ya? Tapi salah satu rekan guru senior bilang ke aku buat diemin aja anak itu di pojokan. Katanya, kalau langsung dipeluk atau digendong, kita lagi memanjakan dia dan bikin dia nggak mandiri. Pas aku pelan-pelan coba dekap anak itu karena kasihan, si guru itu natap aku dengan pandangan nggak setuju. Sebagai orang yang dari dulu susah banget bilang nggak ke orang lain, rasanya serba salah dan bikin sesak.
Untung di rumah suasananya hangat. Yusuf sudah naruh segelas susu hangat di meja kerjaku sebelum dia balik fokus lagi ke depan laptopnya buat ngecek baris-baris kode kerjaannya. Melihat dia setenang itu selalu bikin degup jantungku yang seharian berisik jadi ikut melambat.
Untungnya, pas kuliah malam tadi, dosenku ngebahas materi yang pas banget sama kejadian itu. Aku lagi masuk ke modul metode penelitian ilmu sosial di psikologi Islam. Dan materi ini langsung bikin aku teringat sama kamu, sama kelas-kelas kreatif yang sering kamu bikin buat anak-anak pas liburan sekolah.
Wahyu di Langit dan Tanda-Tanda di Sekitar Kita
Waktu awal kelas mulai, dosenku ngingetin satu hal yang indah banget. Beliau bilang, cara kita mendapatkan petunjuk atau hidayah dari Allah itu sebenarnya lewat dua pintu.
Pintu pertama adalah ayat-ayat yang terbaca, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Pintu kedua adalah ayat-ayat yang terhampar di alam semesta, fenomena fisik juga perilaku sosial manusia yang bisa kita amati langsung. Jadi, ilmu sosial dan metode ilmiah itu bukan sesuatu yang terpisah dari iman. Selama kita nggak mengutak-atik hal-hal yang sifatnya pasti dan gaib kayak rukun iman atau tata cara salat, kita justru disuruh mikir, mengamati, dan mencoba.
Bahkan di zaman Nabi, metode eksperimen sederhana itu sudah pernah terjadi. Kamu ingat nggak hadits tentang penyerbukan kurma? Waktu itu Nabi lewat dan melihat para petani kurma lagi mengawinkan pohon kurma mereka. Nabi sempat menyampaikan pandangan pribadi kalau mungkin itu nggak perlu dilakukan. Para petani patuh dan berhenti melakukannya, tapi panen mereka justru turun drastis.
Waktu dilaporkan, Nabi nggak marah, beliau malah bersabda kalau kalian lebih tahu urusan duniawi kalian. Secara ilmiah, petani itu lagi memanipulasi satu hal (mengawinkan bunga kurma atau nggak) buat melihat hasilnya ke produksi kurma. Dan Nabi menghargai proses belajar dari bukti nyata itu.
Tradisi mencoba ini diteruskan sama ilmuwan muslim klasik. Dokter legendaris Ar-Razzi pernah diminta memilih lokasi terbaik buat rumah sakit di Baghdad. Tahu nggak apa yang dia lakukan? Dia menggantung potongan daging segar di beberapa sudut kota, lalu mengamati daging di sudut mana yang paling lambat membusuk. Di sanalah dia membangun rumah sakit, karena udaranya paling bersih dan higienis. Jauh sebelum laboratorium modern di Eropa lahir, ulama dan cendekiawan kita sudah terbiasa menguji hipotesis secara nyata.
Pelukan Hangat vs Susu Dingin: Kisah Bayi Monyet Harlow
Balik lagi ke drama guru TK tadi pagi, dosenku tadi ngebahas eksperimen klasik dari Harry Harlow di tahun 1950-an. Eksperimen ini sedih sebenarnya, tapi hasilnya mengubah cara pandang dunia psikologi soal cinta dan kasih sayang.
Harlow memisahkan bayi-bayi monyet dari induk aslinya, lalu menaruh mereka di kandang dengan dua pilihan induk buatan:
- Induk pertama terbuat dari kawat jala yang dingin dan kaku, tapi dipasangi botol susu.
- Induk kedua dilapisi kain handuk lembut yang hangat dan empuk, tapi nggak ada susunya sama sekali.
Kira-kira bayi monyet itu bakal lebih banyak menghabiskan waktu di mana?
Teori lama waktu itu mengira bayi cuma butuh makanan. Mereka pikir anak menempel ke ibu cuma karena ibu adalah sumber susu. Tapi ternyata tebakan itu salah besar. Bayi-bayi monyet itu cuma mendatangi induk kawat sebentar banget pas mereka benar-benar lapar. Begitu kenyang, mereka langsung lari dan memeluk induk kain yang lembut berjam-jam.
Bahkan saat Harlow memasukkan mainan monster mekanik yang menakutkan ke dalam kandang, bayi monyet itu nggak lari ke induk kawat yang punya makanan. Mereka lari kencang, membenamkan muka ke induk kain, memeluknya erat-erat sampai rasa takutnya hilang. Baru setelah tenang, mereka berani mengintip dan bereksplorasi lagi.
Harlow menyimpulkan kalau kebutuhan akan sentuhan hangat dan rasa aman jauh lebih mendasar daripada sekadar urusan perut. Dan kontak yang menenangkan ini bisa datang dari siapa saja, baik ibu maupun ayah. Waktu kecil dulu pas aku harus bantu ngasuh adik tiriku waktu rumah lagi berantakan, aku ingat betul gimana tangisnya baru bisa reda bukan saat dikasih biskuit, tapi saat didekap erat di dada sampai detak jantungnya stabil. Kasih sayang fisik itu bukan bikin manja, Sari. Itu adalah fondasi keberanian anak buat menghadapi dunia.
Lab Itu Terlalu Dingin Buat Jiwa Manusia
Meskipun eksperimen Harlow tadi membuka mata banyak orang, dosen kami juga memberi catatan kritis. Eksperimen di dalam laboratorium psikologi itu punya banyak kelemahan kalau kita lihat dari kacamata Islam.
Pertama, suasananya buatan banget. Memanipulasi satu variabel di ruang tertutup sering kali nggak mencerminkan kehidupan nyata yang kompleks.
Kedua, banyak teori psikologi Barat punya pandangan mekanistik. Mereka menganggap manusia itu cuma gabungan tombol sebab-akibat, kayak mesin yang kalau ditekan tombol A pasti menghasilkan perilaku B. Padahal Islam memandang manusia secara utuh. Kita punya akal, kehendak bebas, dan yang paling penting, kita punya ruh yang terhubung dengan pencipta kita. Kita bukan sekadar makhluk biologis yang digerakkan oleh insting bertahan hidup.
Makanya, penelitian sosial nggak boleh cuma bergantung sama angka-angka eksperimen lab saja. Kadang kita butuh observasi wajar di lingkungan alami, mengamati tanpa mencampuri, persis seperti ajakan dalam Al-Qur’an saat kita diminta mengamati bagaimana unta diciptakan atau bagaimana langit ditinggikan. Metode ilmiah modern itu alat bantu yang bagus, tapi jangan sampai bikin kita kehilangan empati pada jiwa manusia yang nggak bisa diukur pakai penggaris.
Induk Kain di Dalam Kelas Coding dan Menulis
Mendengar penjelasan dosen tadi, pikiranku langsung melayang ke proyek-proyek kelas liburan sekolah yang kamu bikin di Bintaro. Kamu kan sering bikin kelas nulis, bikin gim di Minecraft, atau belajar logika coding dasar buat anak-anak dari SD sampai SMA.
Pernah nggak kamu kepikiran, di mata murid-muridmu, kelasmu itu tampil sebagai induk kawat atau induk kain?
Banyak kelas IT atau kelas keterampilan di luar sana yang fokus banget jadi induk kawat. Mereka cuma peduli sama materi padat, tugas yang selesai tepat waktu, logika program yang jalan tanpa eror, atau hasil tulisan yang rapi sesuai kaidah. Tapi suasananya dingin. Anak-anak yang takut salah atau cemas akhirnya nggak merasa aman buat bereksplorasi.
Anak-anak zaman sekarang bebannya sudah berat banget di sekolah formal. Pas mereka ikut kelas kreatif bareng kamu, hal pertama yang sebenarnya mereka butuhkan mungkin bukan tumpukan materi canggih, tapi rasa aman kalau di kelas Tante Sari, salah ketik kode itu nggak apa-apa, punya ide cerita yang aneh itu dirayakan, dan suara mereka didengar tanpa dihakimi. Kehangatan itu yang bikin mereka berani mencoba hal-hal sulit.
Kira-kira, buat kelas proyek liburan sekolah kamu yang berikutnya, eksperimen kecil apa yang bisa kamu coba buat menguji hal ini?
Misalnya, di sesi pertama, alih-alih langsung masuk ke tutorial teknis, kamu coba luangkan waktu sepuluh menit pertama murni buat ngobrol santai, mendengarkan cerita mereka tanpa agenda materi, atau bikin aturan kalau eror terlucu hari itu bakal dapat apresiasi khusus. Coba amati, apakah anak-anak jadi lebih antusias dan nggak gampang menyerah pas ketemu materi yang rumit?
Malam sudah makin larut di sini, dan susu hangatku juga sudah habis. Yusuf sudah mulai merapikan meja kerjanya, tanda aku juga harus segera istirahat. Besok pagi aku mau menyapa anak-anak TK lagi dengan pelukan yang hangat, dan soal tatapan guru senior tadi biarlah jadi urusan besok.
Salam hangat dari kami berdua di Selandia Baru buat kamu dan keluarga di Bintaro ya.
Dari teman belajarmu,
Ana
💬 Diskusi
Mau ikut nimbrung atau menjawab pertanyaan di atas? Login pakai akun GitHub untuk meninggalkan komentar.