Aku menelusuri kenapa kelekatan yang tidak terorganisir bikin anak membeku, sampai ke stres toksik dan hadis tentang kasih sayang yang tidak pernah dipupuk.
Sari, ada satu kejadian di depan pintu kelas tadi, menjelang jam jemput, yang sampai sekarang masih nempel di kepalaku. Rasanya nyambung banget sama modul kelekatan yang baru aku pelajari buat kuliah psikologi Islam minggu ini.
Duduk dulu yang nyaman ya, Sari. Kalau di sana masih pagi, seduh dulu apa pun yang bikin kamu betah. Aku mau cerita soal kejadian tadi, yang ternyata jadi contoh paling nyata dari apa yang di buku teksku disebut disorganized attachment, atau kelekatan yang tidak terorganisir.
Drama Jam Pulang Sekolah dan Anak yang “Membeku”
Tadi pagi, sekitar jam setengah dua belas pas anak-anak lagi siap-siap mau makan siang dan sebagian dijemput, ada satu anak laki-laki namanya Liam, usianya baru empat tahun. Liam ini di kelas biasanya punya dua kutub sikap yang ekstrem banget. Kadang dia bisa hiperaktif sekali, suka melempar balok kayu tanpa alasan, tapi di menit berikutnya dia bisa mendadak menarik diri ke pojokan kelas sambil melamun kosong.
Nah, pas pintu kelas kebuka dan mamanya datang buat jemput, aku merhatiin sesuatu yang bikin bulu kudukku merinding.
Normalnya, anak seumuran Liam kalau lihat ibunya datang bakal langsung lari menyambut, entah itu sambil senyum, atau minimal nunjukin ekspresi lega. Tapi Liam beda. Begitu dia lihat mamanya berdiri di ambang pintu, langkah kakinya sempat maju dua langkah ke arah sang ibu. Tapi tiba-tiba, tubuhnya mendadak kaku. Dia langsung berhenti di tengah ruangan, matanya membelalak ketakutan, lalu dia menjatuhkan badannya ke lantai dengan posisi meringkuk membelakangi ibunya. Dia benar-benar membeku, Sari, seolah-olah otaknya korslet.
Mamanya yang kelihatan capek dan buru-buru malah mendengus kesal di depan orang tua murid yang lain. Dengan nada yang agak keras dia bilang, “Liam, bangun! Jangan bikin malu Mama di sini.”
Liam nggak menangis. Dia cuma diam dengan tatapan yang kosong banget, lalu perlahan bangkit sambil nunduk dalam-dalam.
Melihat pemandangan itu, aku refleks teringat masa kecilku dulu di Bekasi, Sari. Dulu, waktu almarhumah Ibu baru meninggal dan rumah kami mendadak berubah jadi tempat yang penuh ketegangan, aku sering melihat adik tiriku yang masih balita menunjukkan tatapan kosong yang sama persis seperti tatapan Liam tadi. Tatapan seorang anak kecil yang ingin mencari perlindungan, tapi orang yang ada di depannya justru sosok yang paling dia takuti.
Untunglah sekarang hidupku sudah jauh lebih tenang. Tiap kali aku merasa cemas atau duniaku terasa terlalu bising, rumah kecil kami di sini dan kehadiran Yusuf selalu jadi tempat berlindung yang aman. Tapi buat anak-anak seperti Liam, mereka nggak punya tempat untuk pulang.
Mengapa Otak Anak Bisa Mengalami “Korslet” Biologis?
Sari yang baik, kalau kita pakai bahasa yang sederhana, kelekatan atau attachment itu sebenarnya adalah kompas biologis yang Allah pasang di dalam diri setiap bayi manusia. Tujuannya cuma satu: bertahan hidup.
Bayi manusia itu makhluk paling lemah di muka bumi. Mereka nggak bisa cari makan sendiri, nggak bisa lari dari predator. Satu-satunya cara mereka selamat adalah dengan menempel pada pengasuh utamanya, yang biasanya adalah ibu. John Bowlby, tokoh yang mencetuskan teori ini, bilang kalau anak secara alami akan mencari kontak fisik dengan figur lekatnya terutama saat mereka merasa takut, sakit, lelah, atau cemas.
Tapi bayangkan, Sari, apa yang terjadi kalau sumber perlindungan itu sekaligus menjadi sumber marabahaya?
Secara neurobiologis, ketika seorang anak menghadapi ancaman, amigdalanya (alarm bahaya di otak) akan menyala dan berteriak: “Lari! Menjauh dari sumber bahaya!”
Tapi di saat yang sama, naluri kelekatannya juga menyala dan berteriak: “Cari ibumu! Mendekatlah ke ibumu supaya kamu selamat!”
Ketika sang ibu sendiri yang menjadi sumber ancaman, baik karena bentakan keras, kekerasan fisik, atau penelantaran emosional yang ekstrem, sistem saraf anak mengalami jalan buntu biologis. Mau lari mendekat salah, mau lari menjauh juga salah.
Inilah yang dinamakan kelekatan tidak terorganisir. Pola pertahanan anak jadi rusak berantakan. Akibatnya, sistem saraf mereka mengambil jalan pintas terakhir: freeze alias membeku. Tubuhnya diam tak bergerak, atau menunjukkan perilaku aneh yang tanpa arah, seperti mengacungkan jari tanpa tujuan atau tiba-tiba menjatuhkan diri seperti yang Liam lakukan tadi.
Dalam istilah ilmu otak, terjadi pemutusan koneksi sementara antara belahan otak kiri yang rasional dan belahan otak kanan yang memproses emosi. Mereka nggak punya strategi koping sama sekali untuk meregulasi badai emosi di dalam dadanya.
Racun Tak Kasat Mata Bernama Stres Toksik
Modul kuliahku mencatat hal penting tentang jenis-jenis stres pada anak, dan menurutku ini bagian yang perlu kita renungkan bersama sebagai perempuan yang sehari-hari bekerja dengan anak-anak.
Stres pada anak itu ada tiga tingkatan:
- Stres normal: Contohnya rasa sakit sebentar saat vaksinasi atau frustrasi kecil saat belajar memakai sepatu. Stres ini bagus untuk melatih ketahanan mental anak dan tidak meninggalkan luka jangka panjang.
- Stres yang bisa ditoleransi: Contohnya ketika ada musibah, perceraian, atau kehilangan orang terdekat. Ini memang berat dan berbahaya, tapi selama masih ada orang dewasa yang mendampingi dengan penuh cinta dan pelukan hangat, anak masih bisa pulih.
- Stres toksik: Ini kondisi paling berbahaya. Terjadi ketika anak mengalami stres intens yang berkepanjangan tanpa adanya dukungan dari sosok yang menyayanginya.
Ketika stres toksik ini terjadi, tubuh anak dibanjiri hormon kortisol secara terus-menerus. Dan kortisol yang terlalu tinggi dalam jangka panjang ini sifatnya merusak arsitektur otak anak yang sedang berkembang pesat.
Padahal penelitian membuktikan, kehadiran sosok ibu yang hangat dan sentuhan fisik yang tulus adalah penawar alami bagi kortisol. Pelukan seorang ibu bisa langsung menurunkan detak jantung anak yang sedang panik dan menenangkan amigdalanya. Sungguh sebuah mukjizat biologis yang luar biasa, ya, Sari.
Dari Korban Menjadi Pelaku: Lima Dampak Buruk yang Mengintai
Sari pasti sering heran melihat ada anak yang perilakunya sangat merusak, suka menyakiti kucing, memukul teman tanpa rasa bersalah, atau suka merusak mainan di kelas. Modul kuliahku menjawab alasan ilmiah di balik fenomena menyedihkan ini.
Ketika anak terus-menerus hidup dalam kelekatan yang tidak terorganisir, kemarahan dan ketakutan yang tidak terselesaikan itu tidak hilang begitu saja. Emosi gelap itu tersimpan rapi di dalam struktur kepribadiannya. Ada lima konsekuensi besar yang biasanya terjadi:
- Citra diri yang terdistorsi dan rusak: Anak-anak ini merasa bahwa alasan orang tua memperlakukan mereka dengan buruk adalah karena diri mereka sendiri memang jahat, tidak berharga, dan pantas disiksa. Mereka memandang dunia luar sebagai tempat yang kacau balau tanpa aturan yang jelas.
- Masalah perilaku dan tindakan antisosial: Karena di rumah kebutuhan mereka diabaikan, mereka membawa pola curiga itu ke sekolah. Mereka sulit menerima sentuhan hangat dari orang lain dan gampang sekali memicu perkelahian.
- Kecemasan ekstrem, depresi, hingga trauma: Wajah anak-anak ini jarang terlihat ceria. Mereka sering menampilkan ekspresi datar, apatis, atau kemarahan yang sewaktu-waktu bisa meledak.
- Masalah konsentrasi dan gejala mirip ADHD: Anak jadi sangat impulsif, sulit mengontrol diri, dan nggak bisa diam. Otak mereka terlalu sibuk memindai bahaya di sekitarnya sehingga tidak punya ruang lagi untuk fokus belajar atau mendengarkan instruksi.
- Sindrom penarikan diri (withdrawal syndrome): Pada kasus yang parah, anak memilih untuk benar-benar menutup pintu interaksi sosial. Mereka belajar bahwa menjalin relasi dengan manusia lain hanya akan mendatangkan rasa sakit hati.
Bahkan studi klasik yang aku pelajari di kampus, mulai dari kasus tragis Genie yang dikurung ayahnya hingga penelitian Rutter pada anak-anak panti asuhan di Rumania, membuktikan hal yang sama: ada periode waktu yang sangat sensitif di awal kehidupan anak. Jika pada usia emas itu anak sama sekali tidak merasakan kehangatan dan rasa aman, pemulihan mental mereka di masa depan akan butuh perjuangan yang sangat berat.
Pandangan Islam: Fitrah yang Haus akan Sakinah dan Kasih Sayang
Kalau aku renungkan dari sudut pandang Islam, materi ini bikin aku makin kagum dengan ajaran baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Anak lahir ke dunia dalam keadaan fitrah, suci bersih seperti kertas putih. Allah menitipkan rasa butuh akan keamanan di dalam jiwa mereka. Rumah seharusnya menjadi tempat terciptanya sakinah (ketenteraman) dan rahmah (kasih sayang). Ketika orang tua gagal menghadirkan rasa aman itu, hakikatnya mereka sedang mencederai amanah besar dari langit.
Sari ingat nggak kisah terkenal tentang Aqra’ bin Habis? Suatu hari dia melihat Rasulullah mencium cucunya, Hasan bin Ali. Aqra’ yang merasa dirinya lelaki tangguh berkata dengan sombong, “Aku punya sepuluh anak, tapi tidak pernah sekalipun aku mencium salah satu dari mereka.”
Rasulullah menatap lelaki itu lalu bersabda dengan tegas tapi sarat makna: “Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari).
Islam menekankan bahwa sentuhan fisik, ciuman hangat di kening, dan pandangan mata yang menenangkan bukan cuma tanda kelemahan orang tua, melainkan kebutuhan dasar jiwa anak. Tanpa kasih sayang nyata yang bisa dirasakan kulit dan telinga mereka, jiwa anak akan rapuh dan mudah retak di kemudian hari.
Satu Refleksi untuk Kelas Kreatif Sari
Sari, aku selalu kagum melihat energi Sari yang luar biasa. Di sela-sela waktu kuliah S2 dan ngurus rumah, Sari masih sempat memandu kelas-kelas proyek kreatif online buat anak-anak sekolah, seperti kelas menulis cerita fantasi, desain Canva, sampai bikin dunia di Minecraft. Itu pekerjaan yang mulia banget, Sari.
Sambil membaca modul ini tadi, aku tiba-tiba kepikiran anak-anak peserta kelas liburan Sari.
Pernah nggak, di tengah-tengah kelas Minecraft atau coding, ada satu atau dua anak yang perilakunya bikin Sari dan asisten elus dada? Misalnya ada anak yang tiba-tiba merusak (griefing) bangunan temannya tanpa sebab, atau anak yang tiba-tiba mematikan kamera lalu menolak mengerjakan proyek kelompok sama sekali?
Sering kali kita tergoda untuk langsung melabeli mereka sebagai anak nakal, anak pembuat onar, atau anak pemalas yang butuh dimarahi. Tapi belajar dari konsep kelekatan tidak terorganisir hari ini, bisa jadi anak-anak yang paling banyak mengganggu itu justru anak yang sedang mengalami badai stres toksik di rumahnya. Dunia nyata mereka berantakan, dan mereka melampiaskan kekacauan batin itu ke dalam dunia virtual yang Sari fasilitasi.
Nah, ini ada satu pertanyaan refleksi kecil yang mungkin bisa jadi tindakan praktis buat menyempurnakan bisnis kelas kreatif Sari ke depannya:
Bagaimana kalau di awal setiap sesi kelas online, Sari membuat “Protokol Zona Aman” sederhana selama lima menit pertama?
Misalnya, sebelum anak-anak mulai menyentuh koding atau membuka blok Minecraft, Sari mengajak mereka melakukan satu ritual pembuka yang menenangkan. Bisa berupa latihan napas bareng dengan visual yang seru, ruang obrolan bebas tanpa penilaian di mana mereka boleh menuliskan satu kata tentang perasaan mereka hari itu, atau memberikan aturan tegas bahwa ruang belajar Sari adalah tempat yang aman dari celaan dan kesalahan bukanlah sebuah dosa.
Kalau ada anak yang kedapatan merusak proyek temannya di layar, alih-alih langsung mengeluarkan anak itu dari ruang Zoom (kick out), coba sediakan satu breakout room khusus yang tenang. Tugaskan fasilitator untuk menyapa anak itu dengan nada bicara yang lembut, menanyakan apakah harinya sedang berat, dan memberi mereka pilihan untuk istirahat sejenak.
Siapa tahu, kelas kreatif yang Sari buat bukan cuma jadi sarana belajar teknologi bagi mereka, tapi juga menjadi satu-satunya tempat di mana mereka bisa merasakan figur dewasa yang konsisten, tenang, dan tidak menakutkan.
Kalau nanti protokol itu benar-benar kamu coba di kelas, cerita-cerita ya, Sari. Sepertinya Yusuf sudah sampai di depan buat jemput. Aku pamit dulu.
Salam hangat dari rumah kecil kami di Wellington,
Ana
💬 Diskusi
Mau ikut nimbrung atau menjawab pertanyaan di atas? Login pakai akun GitHub untuk meninggalkan komentar.