Jurnal Ana: Waktu Teman Sekelasku Bilang Manusia Cuma Daging dan Reaksi Kimia

Collab Journal · 31 October 2026

Aku menelusuri asal kata psikologi sampai keempat kamar di dalam diri kita, dan sadar bahwa jiwa yang dianggap mitos itu justru yang bikin kita utuh.

Sari, tadi malam di kampus ada kejadian yang bikin dadaku rasanya sesak banget.

Di luar lagi hujan rintik-rintik khas musim dingin Selandia Baru yang dinginnya sampai menusuk tulang. Jam kuliah malam baru aja mulai, dan kelas lagi ngebahas dasar sejarah psikologi modern. Tiba-tiba salah satu mahasiswa lokal yang pintar banget nyeletuk dengan nada santai. Dia bilang kalau pada akhirnya, manusia itu cuma mesin biologis. Menurut dia, cinta, rasa bersalah, empati, atau bahkan doa, itu semua cuma ilusi dari letupan listrik di otak dan reaksi biokimia. Nggak ada yang namanya jiwa.

Waktu dosenku cuma mengangguk pelan, aku sempat mengira beliau membenarkannya. Tapi beliau tidak menimpali dengan ceramah, cuma bertanya balik dengan nada tenang, “Oke. Kalau semuanya cuma reaksi kimia, coba jelaskan bagian mana dari reaksi itu yang membuatmu merasa bersalah setelah berbuat salah.” Ruang kelas mendadak hening. Di situ aku cuma bisa menunduk sambil meremas ujung lengan jaketku. Kamu tahu kan sifat aku yang gampang grogi dan nggak enakan kalau harus mendebat orang di depan umum. Lidahku kelu, tapi di dalam hati rasanya ada yang menolak keras.

Pulang dari kampus, aku cerita ke Yusuf di meja makan sambil menyeduh teh chamomile hangat. Yusuf cuma mendengarkan dengan tenang, terus dia tersenyum lembut sambil bilang, “Justru karena itu kamu belajar psikologi Islam, kan? Supaya kamu tahu jawabannya.”

Omongan Yusuf bikin aku mikir panjang sampai nggak bisa langsung tidur. Aku jadi kepikiran kamu, Sari. Aku pengin membagikan catatan awalku tentang apa sebenarnya psikologi itu kalau kita bedah pelan-pelan pakai hati dan kacamata iman kita.


Katanya Ilmu Jiwa, Tapi Jiwanya Dibuang ke Mana?

Kalau kita buka buku teks paling tebal di perpustakaan, kata psikologi itu selalu dimulai dari bahasa Yunani kuno. Ada dua kata dasarnya:

  • Psyche, yang artinya pikiran, napas kehidupan, atau jiwa.
  • Logos, yang artinya ilmu pengetahuan atau studi.

Jadi kalau digabung secara harfiah, psikologi itu artinya pengetahuan tentang jiwa. Sederhana banget, kan?

Tapi lucunya begini, Sari. Waktu psikologi modern lahir dan ingin diakui sebagai sains resmi yang sejajar sama biologi, fisika, atau kimia di laboratorium, para ilmuwan Barat mulai kebingungan. Jiwa itu bentuknya kayak apa? Warnanya apa? Bisa ditimbang di atas timbangan digital nggak? Karena jiwa nggak bisa diukur pakai penggaris dan nggak kelihatan di bawah mikroskop, akhirnya istilah jiwa pelan-pelan disingkirkan.

Definisinya bergeser. Di kamus-kamus modern sekarang, psikologi biasanya didefinisikan jadi dua hal:

  1. Ilmu yang mempelajari tentang pikiran (mind) dan perilaku (behavior).
  2. Karakteristik mental atau pola tingkah laku kelompok tertentu, misalnya waktu orang ngomongin psikologi massa atau psikologi warna.

Mereka cuma mau meneliti apa yang bisa dilihat mata, yaitu perilaku lahiriah, atau apa yang bisa diukur mesin, yaitu fungsi kognitif otak. Jiwanya sendiri ditinggalkan di pojokan, dianggap mitos zaman kuno. Padahal, manusia yang kehilangan pemahaman tentang jiwanya bakal merasa hampa, persis kayak apa yang sering aku lihat di wajah orang-orang modern di sini.


Rahasia yang Nggak Bakal Pernah Ditembus Mikroskop Lab

Nah, perbedaan antara pikiran (mind) dan jiwa yang hakiki ini krusial banget. Di sinilah letak batasnya manusia. Sains Barat sering kali merasa bisa membedah segala hal sampai ke akarnya, padahal Allah sudah mengingatkan keterbatasan kita lewat firman-Nya:

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (QS. Al-Isra’: 85)

Ayat ini selalu bikin bulu kudukku merinding sekaligus bikin hati merasa tenang. Dari dulu sampai hari kiamat nanti, laboratorium secanggih apa pun nggak akan pernah bisa menciptakan alat pendeteksi ruh. Hakikat ruh itu rahasia eksklusif milik Allah.

Jadi, kalau kita mau belajar tentang manusia secara utuh, kita nggak bisa cuma mengandalkan jurnal ilmiah atau eksperimen perilaku tikus di dalam labirin. Kita butuh wahyu. Kita butuh petunjuk dari Sang Pencipta yang merancang diri kita dari tanah dan meniupkan napas kehidupan ke dalamnya.


Empat ‘Kamar’ di Dalam Diri Kita Menurut Al-Qur’an

Kalau di psikologi umum kita cuma kenal istilah kognisi, afeksi, dan psikomotorik, Islam punya peta yang jauh lebih indah dan mendalam tentang siapa diri kita sebenarnya. Al-Qur’an mengenalkan setidaknya empat istilah utama yang saling terhubung:

  1. Ruh Ini adalah percikan kehidupan dari Allah yang ditiupkan ke dalam jasad janin saat kita masih berusia empat bulan di dalam rahim ibu. Ruh ini suci, terhubung langsung sama dimensi langit, dan bakal kembali kepada Allah waktu jasad kita menyatu lagi dengan tanah.

  2. Nafs Secara gampang, nafs ini adalah diri kita seutuhnya, kepribadian kita, termasuk dorongan keinginan atau hawa nafsu. Nafs ini dinamis banget, bisa naik kelas jadi tenang (muthmainnah), tapi bisa juga jatuh terseret godaan (ammarah bis-su’). Waktu Sigmund Freud bicara soal gunung es alam bawah sadar atau interpretasi mimpi, Islam sebenarnya sudah membahas kedalaman gejolak nafs ini berabad-abad sebelumnya.

  3. Aql atau Fikir Ini adalah daya pikir dan intelek kita. Tapi bedanya sama konsep akal di Barat yang cuma berbasis logika rasional, akal dalam Islam letaknya di hati nurani (qalb). Akal adalah tali pengikat yang tugasnya menimbang mana yang benar dan mana yang salah berdasarkan petunjuk Allah, bukan cuma pintar-pintaran cari pembenaran logika.

  4. Fitrah Ini istilah favoritku dari semuanya, Sari. Fitrah adalah cetak biru atau default setting bawaan manusia sejak lahir.


Anak-Anak Itu Bukan Kertas Kosong, Sari

Di psikologi Barat tempo dulu, ada seorang filsuf bernama John Locke yang bikin teori terkenal namanya tabula rasa. Katanya, anak kecil yang baru lahir itu ibarat kertas putih yang kosong melompong. Mau ditulis apa saja terserah orang dewasa yang ada di sekitarnya. Sebagian aliran lain bahkan menganggap anak kecil itu lahir membawa naluri kebinatangan liar yang egois dan harus dijinakkan.

Tapi Islam melihat anak-anak dengan cara yang sangat memuliakan. Kita percaya anak lahir membawa fitrah. Fitrah itu bukan kertas kosong, melainkan sebuah program indah yang sudah terpasang rapi di dalam dada setiap bayi. Fitrah adalah kecenderungan alami untuk mengenali kebaikan, mencintai keindahan, dan mengakui keberadaan Allah sebagai Tuhan semesta alam.

Tadi pagi di tempat kerja, waktu aku menemani anak-anak TK bermain di taman luar, ada anak empat tahun yang tiba-tiba berjongkok lama sekali di dekat pot bunga. Waktu aku samperin, dia lagi memperhatikan seekor semut kecil yang bawa remahan biskuit. Matanya berbinar-binar penuh kekaguman. Dia menatapku dan berbisik pelan, seolah takut mengagetkan si semut.

Rasa takjub alami terhadap ciptaan, rasa ingin menyayangi makhluk lemah, itu bukan hasil indoktrinasi orang tua. Itu pancaran fitrah yang masih sangat murni, belum tertutup debu duniawi. Tugas kita sebagai orang dewasa bukan menjejali kepala mereka dari nol, tapi menjaga dan memupuk fitrah yang sudah Allah tanam sejak awal.


Ide Kecil Buat Proyek Belajar Kamu

Merenungkan konsep fitrah ini bikin aku langsung teringat sama kesibukan kamu di Bintaro, Sari. Kamu kan sering banget bikin kelas kreatif pas liburan sekolah, dari mulai kelas nulis cerita fiksi anak, belajar bikin game di Minecraft, sampai desain canva.

Sering kali di dunia teknologi dan edukasi zaman sekarang, orang dewasa memakai pendekatan behavioristik murni ke anak-anak. Anak cuma digerakkan pakai reward dan punishment. Bikin tugas demi poin, dapat lencana digital, atau demi menang lomba. Padahal kalau hadiahnya hilang, semangat belajar anak ikut lenyap.

Karena kamu lagi merancang modul baru buat proyek liburan semester depan, coba deh terapkan pendekatan berbasis fitrah ini ke dalam kurikulummu:

  • Alih-alih cuma menantang anak membuat game Minecraft yang kompetitif atau sekadar seru-seruan menghancurkan balok, coba kasih mereka proyek naratif yang menyentuh fitrah kebaikan dan kepedulian. Misalnya: “Membangun Desa Impian yang Ramah Kucing Liar” atau “Merancang Rumah Pintar Hemat Energi untuk Membantu Nenek Tua”.
  • Saat mengajar menulis cerita, ajak mereka menyelami apa yang dirasakan tokoh ceritanya ketika berbuat salah. Itu cara halus mengenalkan konsep nafs dan hati nurani tanpa terkesan lagi ceramah agama.

Aku penasaran banget, Sari. Kalau kamu melihat anak-anak peserta kelas kamu selama ini, seberapa sering kamu melihat letupan fitrah alami mereka yang bikin kamu takjub sendiri di depan layar laptop?

Semoga catatan kecil dari seberang pulau ini bisa menemani waktu istirahat kamu di sela-sela revisi buku dan ngoding ya. Salam hangat buat anak-anak di rumah.

Dari sahabat belajarmu,

Ana


💬 Diskusi

Mau ikut nimbrung atau menjawab pertanyaan di atas? Login pakai akun GitHub untuk meninggalkan komentar.


← Semua tulisan